Merdeka Sirait Temui Korban Paedofil, Ada Perlakuan Tindakan Tak Senonoh Hingga Sebut Posisi Kamar

Setelah mendatangi Ashram Klungkung pada Rabu (13/2/2019) siang kemarin, Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mendatangi Polda Bali,

Merdeka Sirait Temui Korban Paedofil, Ada Perlakuan Tindakan Tak Senonoh Hingga Sebut Posisi Kamar
Tribun Bali/Busrah Ardans
Arist Merdeka Sirait mendatangi Polda Bali, Kamis (14/2/2019) 

Arist Blak-blakan Beber Pengakuan Korban Paedofil, Lakukan Tindakan Tak Senonoh Hingga Sebut Posisi Kamar

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Setelah mendatangi Ashram Klungkung pada Rabu (13/2/2019) siang kemarin, Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mendatangi Polda Bali, Kamis (14/2/2019) pagi tadi.

Arist Merdeka Sirait langsung berkoordinasi dengan pihak Polda Bali berkaitan dengan dugaan masyarakat terhadap kasus paedofilia.

Arist Merdeka Sirait menceritkan semua hasil temuannya, termasuk perbincangannya bersama seorang korban.

"Jadi hari ini melaporkan kunjungan saya dan tim kemarin di Ashram Klungkung. Ada juga hasil interview saya dengan seorang yang mengaku sebagai korban pada tahun 2010. Orang ini juga merupakan satu di antara 12 orang yang melarikan diri dari Ashram."

"Karena menurut 12 korban itu, terjadi peristiwa seperti dugaan kejahatan seksual."

"Misalnya apa yang dilaporkan seperti, mandi bersama, kemudian seperti pijat, dan kegiatan lainnya yang membuat 12 orang ini tidak menyangka ada peristiwa seperti itu," kata Arist.

Dalam pertemuannya malam tadi, ia menuturkan kondisi korban terganggu dengan kembali beredarnya isu ini, apalagi korban sudah berkeluarga.

"Korban ini kan dalam keadaan 'ketakutan'. Maklum saja dirinya tidak mau terekspos."

"Atas dasar itu kita bertindak ini sebagai yang melaporkan. Rencananya tanggal 21 ini saya akan bertemu dengan 12 orang korban ini."

"Itu sebuah pengakuan, kan nanti saksi itu memberikan keterangan outputnya adalah keterangan bahwa dia mengakui ada peristiwa itu."

"Bentuknya apa, itu dia yang sebelumnya saya katakan bahwa disepakati ada dugaan peristiwa pada tahun 2010 dan 2015. Nah, untuk mendalami itu, apa bentuknya, maka itu harus diceritakan," jelas dia merinci. (*)

Penulis: Busrah Ardans
Editor: Rizki Laelani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved