Daftar 16 Hp dengan Radiasi Terendah Hingga Tertinggi di 2019, Samsung Galaxy Note 8 Paling Rendah
Besar radiasi yang dikeluarkan sebuah smartphone diukur dengan unit yang dikenal sebagai Angka Absorpsi Spesifik atau SAR.
TRIBUN-BALI.COM - Daftar Hp yang memiliki radiasi terendah tahun 2019 mungkin menjadi sorotan tersendiri bagi organisasi yang bergerak di bidang perlindungan radiasi.
Bahkan organisasi-organisasi tersebut juga mengeluarkan Daftar Hp yang memiliki radiasi terendah di tahun 2019, berdasarkan hasil pengamatan mereka tentunya.
Daftar Hp yang memiliki radiasi terendah di tahun 2018 menjadi sangat penting mengingat dampak radiasi ponsel bagi manusia masih menuai pro dan kontra.
Dilansir dari Kompas.com, German Federal Office for Radiation Protection (Bundesamt für Strahlenschutz), beberapa waktu lalu melakukan penelitian untuk menemukan emisi ponsel yang memiliki tingkat radiasi tinggi dan rendah.
Lantas, data tersebut disusun oleh firma marketing online, Statista yang membuat daftar urutan ponsel mana saja yang memiliki emisi radiasi tinggi dan rendah.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, sebagian besar ponsel dengan radiasi rendah dimiliki oleh perangkat besutan Samsung.
Selebihnya, diisi oleh ponsel Motorola, ZTE, dan LG.
Emisi radiasi paling rendah dinobatkan kepada Galaxy Note 8 yang memiliki tingkat penyerapan 0,17 watt per kilogram, ketika menempatkan ponsel langsung ke telinga tanpa aksesori perantara.
Hasil yang sama juga didapatkan oleh perangkat ZTE Axon Elite.
Dari 16 daftar ponsel dengan emisi rendah, separuhnya dihuni oleh Samsung.
Selain Galaxy Note 8, mereka adalah Galaxy S8, Galaxy S8 Plus, Galaxy S7 Edge, Galaxy S9 Plus, Galaxy J6 Plus, Galaxy J4 Plus, dan Galaxy S8.
"Kenyataannya, perangkat Samsung memiliki fitur yang menonjol, di mana dari 10 teratas, setengahnya berasal dari perusahaan Korea Selatan (Samsung)," jelas jurnalis data, Martin Amstrong sebagaimana KompasTekno rangkum dari Gizmo China, Selasa (12/2/2019).
"Ini berbanding terbalik dengan pesaing utamanya, Apple. Dua iPhone menduduki jajaran ponsel dengan radiasi tinggi, sementara Samsung tidak ada dalam daftar tersebut," imbuhnya.
Dua perangkat iPhone yang dimaksud Amstrong adalah iPhone 7 yang memiliki tingkat radiasi 1,38 watt per kilogram dan iPhone 8 yang memiliki tingkat radiasi 1,32 watt per kilogram.
Di jajaran ponsel dengan emisi radiasi tinggi tersebut, kebanyakan dihuni oleh smartphone besutan OnePlus dan Xiaomi, di mana Mi A1 menjadi ponsel dengan radiasi paling tinggi.
Untuk diketahui, besar radiasi yang dikeluarkan sebuah smartphone diukur dengan unit yang dikenal sebagai Angka Absorpsi Spesifik atau SAR.
Menurut pedoman dari Komisi Internasional tentang Perlindungan Radiasi Non-Ionisasi (ICNIRP), batas aman angka SAR untuk perangkat seluler adalah maksimum 2 W/kg.
Daftar Hp yang Punya Radiasi Tertinggi
Besar radiasi yang dikeluarkan oleh sebuah smartphone dapat diukur dengan menggunakan unit pengukuran yang dikenal sebagai Angka Absorpsi Spesifik atau SAR.
Menurut pedoman dari Komisi Internasional tentang Perlindungan Radiasi Non-Ionisasi (ICNIRP), batas aman angka SAR untuk perangkat seluler adalah maksimum 2 W/kg.
Biasanya, setiap ponsel memiliki dua angka SAR yang berbeda, yakni angka SAR pada penggunaan dekat kepala (head) dan angka SAR saat didekatkan pada badan (body).
Lantas ponsel apa saja yang memiliki tingkat radiasi tertinggi?
Dikutip dari Phone Arena, Rabu (2/1/2019), berikut ini adalah daftar ponsel dengan angka SAR yang paling tinggi pada 2018.
1. Apple iPhone XS Max: Penggunaan pada kepala (Head): 1.00 W/kg, penggunaan pada badan (Body): 1.00 W/kg, Simultaneous Transmission (ST): 1.52 W/kg
2. Apple iPhone XS: Head: 0.90 W/kg, Body: 0.99 W/kg, ST: 1.53 W/kg
3. Apple iPhone XR: Head: 0.90 W/kg, Body: 1.10 W/kg, ST: 1.59 W/kg
4. Samsung Galaxy Note 9: Head: 0.27 W/kg, Body: 0.76 W/kg, ST: 1.59 W/kg
5. Samsung Galaxy S9 Plus: Head: 0.36 W/kg, Body: 0.79 W/kg, ST: 1.59 W/kg
6. Samsung Galaxy S9: Head: 0.35 W/kg, Body: 0.96 W/kg, ST: 1.59 W/kg
7. Google Pixel 3 XL: Head: 1.35 W/kg, Body: 1.19 W/kg, ST: 1.59 W/kg
8. Google Pixel 3: Head: 1.34 W/kg, Body: 1.34 W/kg, ST: 1.59 W/kg
9. LG V40: Head: 1.27 W/kg, Body: 1.28 W/kg, ST: 1.59 W/kg
10. LG G7: Head: 0.22 W/kg, Body: 1.06 W/kg, ST: 1.59 W/kg
11. OnePlus 6T: Head: 1.34 W/kg, Body: 1.19 W/kg, ST: 1.59 W/kg
12. OnePlus 6: Head: 1.26 W/kg, Body: 0.90 W/kg, ST: 1.53 W/kg
13. Xiaomi Pocophone F1: Head: 0.72 W/kg, Body: 0.75 W/kg, ST: Tidak dijelaskan.
14. Sony Xperia XZ3: Head: 0.14 W/kg, Body: 0.44 W/kg, ST: 1.08 W/kg
Meski daftar di atas tidak disusun secara berurutan, dari angka SAR yang didapat terlihat bahwa Sony Xperia XZ3 menjadi ponsel yang paling aman untuk digunakan, dengan angka SAR paling rendah.
Mayoritas ponsel di atas masih sesuai dengan aturan yang berlaku karena berada di bawah batas maksimum.
Meskipun begitu, sangat dianjurkan untuk memilih ponsel dengan angka SAR yang rendah untuk meminimalisasi risiko radiasi pada tubuh.
Radiasi Hp Terbukti Memicu Kanker pada Tikus
Penelitian menunjukkan kalau radiasi ponsel mampu memicu kanker pada tikus, lantas bagaimana dampaknya pada manusia?
Sebuah penelitian dari Amerika Serikat menunjukkan tingkat paparan tinggi dari radiasi gelombang radio, yang dipancarkan ponsel, terkait erat dengan munculnya kanker hati pada tikus jantan.
Beberapa penelitian lain membuktikan adanya kaitan antara radiasi ponsel dengan tumor otak dan kelenjar adrenal yang juga ditemukan pada tikus jantan.
Namun pada tikus betina dan mencit jantan, tanda-tanda kanker tidak terdeteksi dengan jelas.
Hal ini disimpulkan oleh para peneliti dari National Toxicology Programme (NTP) dalam laporannya, Kamis (01/11/2018).
Program ini dilakukan oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS.
Tujuan utamanya, meninjau toksisitas radiasi ponsel sebagai benda yang sangat mudah ditemui di kehidupan modern.
Paparan radiasi yang digunakan dalam percobaan ini memang melebihi tingkat yang selama ini dialami manusia.
Meski begitu, temuan ini menunjukkan bukti tak terbantahkan hubungan antara radiasi ponsel dengan kanker.
"Paparan dalam studi tidak dapar dibandingkan langsung dengan yang dialami manusia saat menggunakan ponsel," ungkap Dr John Bucher, ilmuwan senior NTP dikutip dari The Independent, Jumat (02/11/2018).
"Dalam penelitian kami, tikus dan mencit menerima radiasi frekuensi radio di seluruh tubuh mereka. Sebaliknya, sebagian besar manusia terpapar di jaringan lokal tertentu, bagian tubuh terdekat mereka memegang telepon," imbuhnya.
Meski begitu, dia menambahkan bahwa mereka percaya hubungan antara radiasi ponsel dengan tumor pada tikus jantan adalah hal yang nyata.
Bucher juga menegaskan peneliti lain yang tak terlibat juga setuju dengan temuan mereka
Eksperimen ini membutuhkan waktu selama beberapa dekade.
Selama itu, jaringan hewan disisir untuk mencari tanda-tanda tumor yang dialami tikus setelah diberikan radiasi ponsel selama 9 jam sehari dalam dua tahun.
Hasilnya, mereka menemukan pada tikus jantan yang terpapar radiasi ponsel mengalami insiden tumor jantung yang lebih tinggi dibanding tikus yang tak terpapar.
Namun, pada tikus betina, bukti setiap kanker yang terbentuk digambarkan masih "samar-samar".
Artinya, memang ada peningkatan dalam molekul yang berkaitan dengan kanker tapi tidak ada bukti nyata terbentuknya kanker.
Jika paparan radiasi ponsel telah terbukti terkait erat dengan tumor pada tikus jantan, lalu bagaimana efeknya pada manusia?
Perlu diketahui, penelitian ini hanya menggunakan sinyal nirkabel 2G dan 3G, jenis yang banyak digunakan saat penelitian ini dimulai pada sekitar 1990-an.
Namun, pada perkembangannya, ponsel saat ini telah menggunakan teknologi WIFI dan 4G, bahkan mungkin 5G pada 2020 mendatang.
Dilansir dari New York Times, Jumat (02/11/2018), frekuensi gelombang 4G dan 5G jauh lebih tinggi.
Meski demikian, para ilmuwan menyebut bahwa gelombang radio ini belum mampu menembus tubuh manusia dan tikus.
Untuk menghindari kritik akibat teknologi yang sudah usang, para peneliti berencana melakukan penelitian dengan teknologi yang lebih baru.
Pada penelitian baru itu, ilmuwan akan fokus pada tanda-tanda fisik yang terukur seperti penanda biologi hingga kerusakan DNA.
Disamping itu, Lembaga Kanker Amerika juga memandang bahwa tidak perlu ada kekhawatiran mengenai penelitian ini.
"Kasus tumor otak pada manusia tidak meningkat selama 40 tahun terakhir," ujar Otis Brawley, kepala petugas medis Lembaga Kanker Amerika dikutip dari USA Today, Jumat (02/11/2018).
"Itu adalah fakta ilmiah paling penting," tegasnya. (*)