Hari Raya Nyepi

Begini Tanggapan MUDP Terkait Pelarangan Ogoh-ogoh dari Bahan Styrofoam

Jero Gede Suwena Putus Upadesa selaku Bendesa Agung Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Provinsi Bali mengatakan pihaknya

Begini Tanggapan MUDP Terkait Pelarangan Ogoh-ogoh dari Bahan Styrofoam
Tribun Bali/Busrah Syam Ardan
 Jero Gede Suwena Putus Upadesa selaku Bendesa Agung Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Provinsi Bali, saat diwawancara wartawan usai diundang menghadiri Pemusnahan Barang Bukti Narkotika di BNNP Bali, Jumat (15/2/2019), kemarin. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Berkaitan dengan larangan pembuatan ogoh-ogoh dari bahan styrofoam oleh Pemerintah Kota Denpasar, Jero Gede Suwena Putus Upadesa selaku Bendesa Agung Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Provinsi Bali mengatakan pihaknya tidak bisa berkata boleh atau tidaknya.

Hanya saja dia menekankan, kalau larangan tersebut sudah pasti melalui suatu kajian yang panjang.

"Ogoh-ogoh tanpa bahan plastik kan sekarang yang sudah jelas melarang itu pemerintah kota Denpasar dan kemarin ada yang menanyakan saya tentang pelarangan itu, saya bilang jika pemerintah kota melarang itu berarti sudah ada kajian, ada evaluasi yang dilakukan mengenai apa yang sebelumnya dan dan yang akan datang. Mungkin perlu dilakukan, tapi kami tidak bisa ikut campur membolehkan atau tidak," kata dia saat diwawancara wartawan usai diundang menghadiri Pemusnahan Barang Bukti Narkotika di BNNP Bali, Jumat (15/2/2019), kemarin.

Namun dijelaskannya, pada prinsipnya, karena itu bagian dari upacara Yadnya, maka silakan saja sepanjang aturan-aturan itu dipenuhi.

"Misalnya syarat-syarat membuka ogoh-ogoh. Maknanya harus dipatuhi, harus tahu persis apa itu makna ogoh-ogoh, kemudian apa tujuannya, kemudian bagaimana cara pembuatannya, bagaimana pelaksanaan acara dalam mengarak ogoh-ogoh. Itu semua harus dipatuhi. Yang jelas, yang bertanggung jawab ini adalah wilayah Desa Pakraman setempat atau Banjar Pakraman setempat.

"Sehingga jangan sampai, dalam rangka kita menyomyakan bhuta kala pada saat yang pengerupukan justru menimbulkan bhuta kala yang lebih besar lagi. Oleh karena itu, sudah diberikan suatu pandangan atau arahan dari Parisada, MUDP, dari Pemerintahan, Kanwil Agama, dengan saudara kita non Hindu dalam FKUB, sudah berkumpul membicarakan ini. Dan prinsipnya dilakukan sebagaimana yang dulu," jelas dia menerangkan.

Menyangkut pelaksanaan ogoh-ogoh, dikatakannya acaranya masing-masing di wilayah setempat.

Syarat-syaratnya tidak menggunakan bahan plastik, styrofoam, ada baiknya ungkapnya kembali ke alam.

"Soal nanti bagaimana pelaksanaan di Desa Pakraman, masing-masing silakan. Ada liang mupasupati, ada juga yang tidak, ada yang membrelina, ada yang membakar, ada yang mengair, atau ada cara lain. Atau ada yang disimpan karena buat yang mahal dan susah tapi sepanjang tidak menggangu kepentingan upacara Yadnya dan kepentingan masyarakat di Desa Pakraman sendiri. Sepanjang diizinkan desa dan ditempatkan di tempat yang baik dan tidak membahayakan orang lain," terangnya menyarankan.

Usai pengarakan ogoh-ogoh itu, dirinya juga menyerahkan sepenuhnya kepada masing-masing Desa.

Halaman
12
Penulis: Busrah Ardans
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved