Liputan Khusus

Pelegalan Arak di Bali Ibarat Pisau Bermata Dua, Kemungkinan Dampak Negatifnya Harus Diantisipasi

Sambil menghisap sebatang rokok, Komang Yoga mulai menuangkan arak ke dalam sloki.

Pelegalan Arak di Bali Ibarat Pisau Bermata Dua, Kemungkinan Dampak Negatifnya Harus Diantisipasi
Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Suasana di salah satu warung penjual arak yang cukup dikenal di kawasan Sanur, Denpasar, pekan lalu. Pelegalan arak Bali punya sisi positif, namun juga perlu antisipasi kemungkinan dampaknya. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sambil menghisap sebatang rokok, Komang Yoga mulai menuangkan arak ke dalam sloki.

Dua botol arak Bali itu ia nikmati secara bergiliran dengan teman-temannya yang duduk satu meja.

Kacang dan keripik singkong ia gunakan sebagai camilan sambil bercanda tawa dalam kehangatan suasana.

“Kalau sudah kumpul ditemani arak, tidak ada masalah yang dipendam. Pokoknya gembira sama temen-temen. Yang punya masalah curhat, dan yang lain ngasih solusi. Semua yang keluar adalah kejujuran,” kata Yoga saat minum arak Bali di Warung Pan Tantri, Jalan Pungutan, Sanur, Denpasar, Rabu (13/2) malam.

Warung Pan Tantri adalah salah-satu penjual arak yang cukup dikenal oleh kalangan anak muda, khususnya di Denpasar.

Malam itu, hampir seluruh meja yang ada di warung Pan Tantri penuh oleh kumpulan remaja, dan anak muda yang ingin menikmati arak Bali.

Mereka yang datang secara berkelompok duduk mengelilingi meja yang tersedia. Di bawah pancaran cahaya lampu, alunan music jazz dan reggae menemani kongkow mereka.

Di sisi timur warung Pan Tantri terdapat tulisan “Saudara Sebotol”. Tulisan itulah jargon dari warung Pan Tantri untuk mengajak para peminum agar tetap menjaga persaudaraan meskipun nanti mabuk.

Mendengar adanya wacana Gubernur Bali I Wayan Koster yang ingin melegalkan arak Bali, Tribun Bali pun mencoba mewawancara pemilik Warung Pan Tantri, Kadek Unggit Apriana.

Menurut dia, upaya melegalkan arak bagai pisau bermata dua. Sebab, sebagai penjual arak, pria yang akrab disapa Dek Unggit ini mengaku masih peduli dengan anak muda, terutama anak sekolahan yang masih berusia 17 tahun ke bawah.

Halaman
1234
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved