Jelang Panca Wali Krama di Pura Besakih, PHDI Sebut Pasti Ada Akibat Bila Langgar Larangan Ngaben

Selanjutnya tanggal 2 Maret mendatang akan dilaksanakan prosesi melasti dari Pura Besakih menuju ke Pantai Watu Klotok, Klungkung.

Jelang Panca Wali Krama di Pura Besakih, PHDI Sebut Pasti Ada Akibat Bila Langgar Larangan Ngaben
Ist
Pamedek mengikuti upacara melasti dengan berjalan kaki dari Pura Besakih menuju Pura Tegal Suci, Kamis (29/3/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Panca Wali Krama di Pura Besakih akan digelar bulan Maret 2019 ini.

Rangkaian upacara tersebut telah dimulai sejak Januari 2019, yakni larangan ngaben sejak tanggal 20 Januari 2019.

Selain itu, tanggal 1 Februari 2019 kemarin juga telah dilaksanakan prosesi nunas tirta panyengker yang kemudian dipercikkan di setra setiap desa.

"Apabila setelah nunas tirta panyengker ada yang meninggal, prosesinya hanya dikubur saja. Dan setelah datang dari kuburan tidak nyebel lagi," kata Ketua PHDI Bali, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana saat ditemui di IHDN, Selasa (19/2/2019) kemarin.

Selanjutnya tanggal 2 Maret mendatang akan dilaksanakan prosesi melasti dari Pura Besakih menuju ke Pantai Watu Klotok, Klungkung.

Adapun jarak tempuh melasti ini lebih dari 30 km dan diperkirakan akan sampai di Pura Besakih kembali tanggal 5 Maret.

Selanjutnya setelah Nyepi baru akan dilaksanakan puncak Panca Wali Krama ini.

Panca Wali Krama ini akan nyejer hingga tanggal 12 April 2019.

Untuk para pemedek saat Panca Wali Krama, diharapkan agar tertib saat melakukan persembahyangan.

Hal ini agar tidak terjadi kemacetan seperti 10 tahun yang lalu.

"Diharapkan mematuhi aturan lalu lintas supaya tidak macet. Usahakan dibagi mungkin hari ini Klungkung, hari berikutnya Tabanan, lanjut Badung, dan begitu seterusnya agar tidak macet," kata Sudina.

Sementara itu, terkait adanya warga yang melanggar dengan melakukan Ngaben walaupun sudah ada larangan, ia mengatakan tak bisa ngomong apa.

"Tidak ada sanksi, tapi kan ini tradisi yang telah berjalan. Kalau melanggar silahkan saja, tapi melanggar tradisi di Bali pasti ada akibatnya," kata Sudiana. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved