Montase Pemabuk ala Boy Jengki

Buku tersebut menghimpun 55 puisi dari masa penciptaan tahun 2010 hingga 2016 dan diterbitkan Penerbit Pustaka Ekspresi

Montase Pemabuk ala Boy Jengki
Istimewa
Sampul Buku Montase karya Wayan Jengki Sunarta. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Montase begitu buku kumpulan puisi Wayan Jengki Sunarta.

Buku tersebut menghimpun 55 puisi dari masa penciptaan tahun 2010 hingga 2016 dan diterbitkan Penerbit Pustaka Ekspresi.

Dalam buku tersebut kata “mabuk” dan “pemabuk” bertebaran di beberapa judul puisi.

Di antaranya Ubud, Gerimis Menyapa (2010), Agustus Belum Pupus (2012), Kota Yang Dikutuk Pemabuk (2012), Malam Mabuk di Ubud (2012), Ubud, Hanya Keluh dan Riuh (2014), Serenade Malam (2015), Tengah Malam (2016), dan Tafsir Clair de Lune — Debussy (2016).

Tentu akan terbesit pertanyaan apakah penyair atau Jengki atau Boy Jengki (sapaan baru saya kepada Wayan Jengki Sunarta) seorang pemabuk?

Image inilah yang terbangun dalam mencari pemaknaan dan penafsiran hingga apresiasi dalam karya sastra.

Namun hal itu sebenarnya tidak selamanya benar.

Celakanya para kritikus sastra dalam mengapresiasi karya sastra perihal yang paling utama dibahas lebih dulu penyairnya, pendekatan biografi menjadi parameter kebenaran dalam menganalisis dalam mengapresiasi sebuah karya sastra.

Baca: Tersembunyi di Bawah Tanah, Beginilah Penampakan Kebun Ganja Terbesar di Dunia Senilai Rp 19 Miliar

Baca: 4 Nama Bersaing Duduki Jabawatan Direktur Bhukti Mukti Bhakti Bangli, Siapa Layak?

Tidak perlu kita bicara ihwal apakah penulis “Mabuk” atau “Pemabuk”, namun mari kita urai karyanya dengan pendekatan teori psikologi sastra.

Semoga nanti menjawab penciptaan dan diksi “mabuk” dan “pemabuk” karya Boy Jengki.

Halaman
1234
Penulis: Kambali
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved