26 Tahun Hidup di Gubuk Tanah, Suriani: Saya Khawatir Temboknya Sudah Retak-retak

Ni Wayan Karian sudah sejak 26 tahun lalu tinggal di rumah rusak parah bersama keponakannya Ni Wayan Suriani

26 Tahun Hidup di Gubuk Tanah, Suriani: Saya Khawatir Temboknya Sudah Retak-retak
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Kondisi kediaman Ni Wayan Karian dan Ni Wayan Suriani di Dusun Gembalan, Desa Selat, Klungkung, Minggu (24/2/2019). 

Jangankan untuk membangun rumah, untuk makan sehari-hari saja sangat kekurangan.

Ia hanya seorang buruh pemetik bunga dan harus menanggung bibinya yang sudah tidak bisa bekerja karena renta dan mengalami gangguan pendengaran.

"Sudah pernah ada petugas foto-foto, tapi saya tidak tahu kapan dapat bantuan bedah rumah. Pak Bupati (Suwirta) juga sudah pernah ke sini, katanya diminta bersabar,” ungkapnya.

Selain keadaan rumah yang rusak, keluarga itu juga tidak memiliki listrik dan toilet.

Setiap malam, Suriani dan Karian hidup dengan penerangan lampu teplek.

PDAM yang dinikmati Karian, kata Suriani, merupakan bantuan dari Bupati Klungkung Nyoman Suwirta. Hanya saja kran air terpasang sampai di depan pekarangannya.

Perbekel Desa Selat, Gusti Lanang Adnyana mengatakan, pihaknya telah mengajukan usulan bantuan bedah desa ke Pemkab untuk KK tersebut.

“Bantuannya bersumber dari cooperate social responsibility (CSR) sebuah bank. Katanya tahun ini akan direalisasikan, tapi saya tahu tahu persis jadwalnya,” kata Adnyana. (*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved