Breaking News:

Perbekel 'Gila' Mesatua Bali, Rayakan Bulan Bahasa Bali dengan Buat Video Mesatua Setiap Hari

Ia tak ingin ikut arus, melainkan mencari jalan yang berbeda dengan membuat video mesatua (cerita) Bali

Tribun Bali/I Putu Supartika
I Made Sugianto. 

Bahkan ada yang request hingga kirimkan bahan bacaan untuk diceritakan.

"Kegiatan ini tetap saya lanjutkan meski perayaan bulan bahasa Bali telah berakhir. Jangan hanya buat kegiatan saat perayaan saja, akan lebih indah jika dilakukan setiap saat," katanya.

Selain membuat video mesatua, ia juga masih aktif menulis berbahasa Bali.

Ia telah menerbitkan 1 buku puisi, 4 kumpulan cerpen, dan 5 novel.

Selain itu, sepuluh tahun lalu, bermodalkan Rp 1 juta ia juga mulai menerbitkan buku sastra Bali modern.

Namun tak semuanya buku miliknya yang ia terbitkan.

Baca: Mencicipi Lawar Soto Babi, Perut Kenyang & Ramah di Kantong

Baca: Tingkatkan Kemampuan Penyidikan, Korwas Bareskrim Polri Gelar Pelatihan

Menggunakan bendera penerbitan indie Pustaka Ekspresi, ia terbitkan buku-buku tersebut walaupun harus menggunakan uangnya sendiri.

Awalnya ia tertarik untuk menulis dan menerbitkan buku berbahasa Bali dan membuat penerbitan Pustaka Ekspresi ini, karena ada isu bahasa Bali terancam punah.

"Mulainya karena ancaman bahasa Bali punah dan pengguna berkurang. Bahkan di desa panggilan meme, bapa, kakiang, niang sudah menghilang di desa dikalahkan panggilan bapak, ibu, kakek, dan nenek," kata Sugianto.

Tujuan penerbitan yang dilakukan Sugianto adalah membantu teman-teman penulis berbahasa Bali untuk bisa menerbitkan buku.

Halaman
1234
Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved