Breaking News:

Perbekel 'Gila' Mesatua Bali, Rayakan Bulan Bahasa Bali dengan Buat Video Mesatua Setiap Hari

Ia tak ingin ikut arus, melainkan mencari jalan yang berbeda dengan membuat video mesatua (cerita) Bali

Tribun Bali/I Putu Supartika
I Made Sugianto. 

Ia bantu biaya maupun percetakannya.

Buku pertama yang ia terbitkan adalah 'Jangkrik Maenci' karangan IGP Samar Gantang. Dengan modal awal Rp 1 juta, bisa dicetak 200 eksemplar buku.

"Itu awalnya saya cetak di salah satu percetakan di Denpasar," imbuh Sugianto yang kini jadi Kepala Desa Kukuh.

Awalnya penerbitan ini murni untuk menerbitkan karya penulis berbahasa Bali khusunya sastra Bali modern.

Punya uang ia ladeni dan terima, tidak punya uang tapi ingin memiliki buku, juga ia ladeni.

Baca: Sepasang Kekasih Pemilik 13 Paket Kokain Divonis 64 Bulan Penjara

Baca: Jadwal Lengkap Piala Presiden 2019, Persib Bandung Yang Pertama, Bali United Akan Berlaga 3 Maret

"Mereka punya nol saya bantu. Punya sekadar untuk ikut partisipasi saya juga terima," katanya.

Bahkan ia membuat sebuah program menerbitkan dua buah buku berbahasa Bali para penulis Bali.

Khusus yang berbahasa Bali.

Untunglah, setelah beberapa buku berbahasa Bali terbit, di luar dugaan ada penulis yang menulis dengan bahasa Indonesia ikut menerbitkan buku di sana.

Oleh karena itu, dari selisih atau keuntungan penerbitan buku berbahasa Indonesia tersebut ia tabung untuk menjalankan program dua buku bahasa Bali dalam setahun.

Hingga akhirnya tahun 2017, timbul sebuah ide untuk memberikan penghargaan kepada penulis berbahasa Bali.

Untuk penghargaan ini ia terinspirasi dari Hadiah Sastera Rancage yang digagas Ajip Rosidi, sastrawan dari Bandung dan diberi nama Gerip Maurip.

Untuk diketahui, Hadiah Sastera Rancage merupakan hadiah untuk para penulis yang menggunakan bahasa daerah seperti Sunda, Jawa, Bali, Lampung, maupun Batak.

Adapun bedanya, kalau Rancage buku yang dilombakan dengan hadiah uang, sedangkan Gerip Maurip, naskah yang dilombakan kalau juara dapat buku.

Baca: Terbukti Miliki 36 Paket Sabu-sabu Diganjar 8,5 Tahun Penjara, Ari Pasrah Menerima

Baca: 468 Penerbangan Tidak Beroperasi, Bandara Ngurah Rai Hentikan Operasional Saat Nyepi 2019

"Saya yang semula hanya sekadar membantu menerbitkan, kini membuat sayembara penulisan buku berbahasa Bali. Dulu saya kontak atau ngontak teman untuk menerbitkan buku, mulai tahun 2017 resmi saya lombakan sehingga buku yang terbit merupakan pemenang sayembara," kata Sugianto.

Sedangkan kendala bagi Sugianto sendiri adalah pemasaran buku karena pembaca sendiri masih sangat terbatas.

Untuk menyiasati hal itu, dirinya meminta penulis untuk memasarkan bukunya secara door to door.

"Kadang saya kasi penulis biar dipasarkan sendiri secara door to door. Kalau minta bantuan, taruh di toko-toko buku di Denpasar. Tapi, agar laku bagusan door to door sehingga nanti ada modal untuk menerbitkan kembali," tuturnya.

Dengan ketekunannya tersebut, ia diganjar Hadiah Sastera Rancage sebanyak dua kali yaitu tahun 2012 dibidang jasa untuk penerbit Pustaka Ekspresi dan tahun 2013 untuk novel Sentana.

Baca: Inspektur Navigasi Penerbangan Ditjen Hubud Jalin Sinergitas dan Integritas Personel

Baca: Koster Rancang Dokter Spesialis Kandungan dan Anak di Puskesmas

Selain itu, usahanya tersebut juga membangkitkan semangat generasi muda untuk berkarya dan menerbitkan buku berbahasa Bali walaupun jika dilihat dari segi kualitas masih jauh dari harapan.

Dan sejak tahun 2010, generasi mudapun mulai mendominasi karya-karya sastra Bali moderen.

"Anak muda juga mulai merebut Hadiah Sastera Rancage mulai dari Komang Adnyana, Putra Ariawan, Alit Juliartha, Gita Purnama, Supartika, Citrawati, hingga Darma Putra," katanya.

Setelah sembilan tahun berlalu dari kekhawatiran akan punahnya bahasa Bali, kini Sugianto merasa yakin bahasa Bali tidak akan punah.

"Saya percaya, semasih ada generasi muda yang peduli walaupun dengan jalan sastra, bahasa Bali tidak akan punah. Apalagi pemerintah membuat Penyuluh Bahasa Bali, walaupun mereka aktif dalam ngebeg (menggosok) lontar, namun kiprah mereka juga luar biasa agar bahasa Bali tidak punah," tuturnya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved