Viral Perusakan Ogoh-ogoh di Desa Kediri Tabanan, Bendesa: Pelarangan Berdasarkan Pararem

Video perusakan dan pembakaran ogoh-ogoh beredar viral di media sosial, Selasa (26/2/2019) terjadi di Desa Kediri, Tabanan

Viral Perusakan Ogoh-ogoh di Desa Kediri Tabanan, Bendesa: Pelarangan Berdasarkan Pararem
Infografis: Tribun Bali/Dwi S
Ilustrasi perusakan ogoh-ogoh di Tabanan. 

Panji Wisnu menjelaskan, beberapa tahun sebelumnya Desa Pakraman Kediri sudah ada kesepakatan tidak membuat ogoh-ogoh.

Melalui Paruman Agung pada 2016 menelurkan pararem khususnya di Desa Kediri tidak membuat ogoh-ogoh pada saat hari pangerupukan.

Sebagai gantinya digelar tradisi tektekan. Pararem ini, kata dia sudah disosialisasikan ke semua banjar yang ada. 

Antisipasi Gesekan
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun Bali, penggantian tradisi ogoh-ogoh ke tradisi tektekan, dilatarbelakangi oleh sikap antisipasi pihak desa terhadap potensi keributan.

“Tahun 2016 kemudian ditelurkan keputusan lewat paruman desa (rapat bersama). Bahwa di Desa Kediri dalam perayaan pangrupukan tidak membuat ogoh-ogoh dan diganti dengan kegiatan tradisi tektekan dan sampai saat ini masih berlaku,” jelasnya.

Untuk peristiwa ini, lanjutnya, ternyata ada sekelompok pemuda membuat ogoh-ogoh. SOgoh-ogoh tersebut masih dalam bentuk kerangka yang sudah dibungkus dengan kertas.  

“Tanpa minta pertimbangan dan persetujuannya, sekelompok pemuda ini membuatlah ogoh-ogoh. Sehingga kami lakukan pendekatan agar tidak melanjutkan membuat ogoh-ogoh. Nah, setelah beberapa pertemuan antara kelian banjar adat dan pemuda, mereka ternyata memilih untuk tidak melanjutkannya. Tapi kami hanya mengimbau, mereka sendiri justru membongkar dan membakar ogoh-ogoh tersebut,” tuturnya.

Ia melanjutkan, karena tidak puas sejumlah pemuda yang termasuk dalam kelompok sekaa demen tersebut menghadap ke bendesa. Setelah dijelaskan dengan adanya pararem tersebut, mereka memilih tidak melanjutkan membuat ogoh-ogoh.

“Mereka hanya ingin membuat ogoh-ogoh, tapi kami jelaskan pararem tersebut. Ke depannya, kami akan lebih gencarkan sosialisasikan terkait adanya pararem. Sebelumnya atau pada pembuatan pararem sudah semua terlibat seperti pengurus prajuru adat, perbekel, pengurus pemuda, pemangku kerta desa,” imbuhnya. 

Bendesa Bantah Tebar Ancaman
Disinggung mengenai adanya ancaman kepada sejumlah orangtua pemuda, Bendesa Adat Kediri, Anak Agung Ngurah Gede Panji Wisnu langusng menampiknya.

Halaman
123
Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved