Hari Raya Nyepi

Memahami Sejarah dan Makna Tradisi Perayaan Hari Raya Nyepi

Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, sudahkah kamu mengetahui sejarah dan makna tradisi Nyepi yang berlangsung setiap tahunnya?

Memahami Sejarah dan Makna Tradisi Perayaan Hari Raya Nyepi
Tribun Bali/Putu Supartika
Suasana persembahyangan di Pura Jagatnatha Denpasar, Sabtu (13/10/2018). 

TRIBUN-BALI.COM - Perayaan Hari Raya Nyepi akan jatuh pada Kamis (7/3/2019).

Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi, sudahkah kamu mengetahui sejarah dan makna tradisi Nyepi yang berlangsung setiap tahunnya?

Dengan memahami sejarah dan makna Tradisi Nyepi, kita menjadi bisa menghormati dan menghargai umat Hindu yang merayakannya.

Seperti yang dilansir TribunTravel dari beberapa sumber, perayaan Hari Raya Nyepi didasarkan pada penanggalan atau kalender Saka.

Sejak tahun 78 masehi, perhitungan tahun Saka ditetapkan, di mana satu tahunnya juga sama-sama memiliki 12 bulan dan bulan pertamanya disebut Caitramasa, bersamaan dengan bulan Maret tarikh Masehi dan Sasih Kesanga dalam tarikh Jawa dan Bali di Indonesia.

Tahun Baru Saka memiliki makna sebagai hari kebangkitan, hari pembaharuan, hari kebersamaan (persatuan dan kesatuan), hari toleransi, hari kedamaian sekaligus hari kerukunan nasional.

Baca: 8 Fakta Nyepi yang Jarang Diketahui, Mulai dari Pantangan hingga Promo Hotel Murah

Baca: Sambut Nyepi, Putu Nanda Senang Pikul Ogoh-Ogoh Mini dalam Pawai Ogoh-Ogoh PAUD se-Kota Denpasar

Setiap tahunnya, umat Hindu merayakan pergantian Tahun Saka yang dilakukan dengan cara Nyepi selama 24 jam.

Selama Nyepi, umat Hindu melakukan rangkaian acara yang terdiri dari:

1. Upacara Melasti, Mekiyis, Melis

Inti dari acara ini adalah menyucikan Bhuana Alit (alam manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta).

Halaman
1234
Editor: Irma Budiarti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved