Kisah Made Suatjana Bikin Program Komputer Huruf Bali, Kerja Keras Berbuah Penghargaan

Pria yang dikenal sebagai Programer Aksara Bali Simbar ini, dinilai berjasa melestarikan aksara Bali dengan melakukan digitalisasi aksara Bali.

Kisah Made Suatjana Bikin Program Komputer Huruf Bali, Kerja Keras Berbuah Penghargaan
Tribun Bali/Wemasatya
PENGHARGAAN - Dipl Ing I Made Suatjana memperlihatkan Piagam Penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama tahun 2019 atas dedikasinya melestarikan bahasa, sastra dan aksara Bali, di rumahnya Jalan Zamrud, Denpasar, Sabtu (2/3/2019). 

Dengan penuh keyakinan dan ketelitian, pada 1988, Suatjana mulai mencoba membentuk huruf-huruf aksara Bali dengan garis putus-putus. Ide tersebut berawal dari adanya program Chiwriter, sebuah program yang berisi aneka simbol, seperti simbol integral pada matematika.

“Dari situ saya menghayal bagaimana caranya bisa menampilkan huruf Bali. Tahun 1988, ada sebuah program DOS yang bernama Chiwriter. Program ChiWriter bisa untuk membuat simbol-simbol. Terus tiang mencoba membuat huruf Bali dengan program Chiwriter itu,” tutur pria asal Desa Gadungan Kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan ini.

Berlanjut ketika program Windows mulai dikenalkan pada khalayak ramai, pada 1993 dia baru bisa membeli komputer yang ada Windows-nya.

Selanjutnya pada akhir tahun yang sama Suatjana menemukan sebuah naskah kecil di Info Komputer yang memuat artikel tentang cara membuat font.

Akhirnya sejak ditemukan artikel itu, ide untuk membuat font Bahasa Bali mulai bisa dikerjakan. Font itu kemudian diselesaikannya selama 6 bulan hingga Program Bali Simbar dapat diselesaikan pada 1994 dengan baik dan lengkap.

Tak berhenti sampai di sana, Suatjana terus melakukan penyempurnaan tanpa henti. Bekerjasama dengan Aken Life dan Yayasan Dwijendra, program hasil rancangan Suatjana berhasil diresmikan oleh Pemda Bali dan mulai dikenalkan pada masyarakat dan berganti nama menjadi Bali Simbar Dwijendra pada 1996.

Bahkan pada 2009, Bali Simbar Dwijendra sudah dilengkapi dengan sistem koreksi, di mana ketika kita memasukkan sebuah kata atau kalimat maka akan ada hasil koreksinya.

Ide Suatjana memang sangat inspiratif, dengan tujuan mengembangkan dan melestarikan budaya Bali, khususnya, dan budaya Indonesia pada umumnya.

Sehingga tak ayal ia juga berhasil meraih Penghargaan Rancage Bidang Sastra pada 2008, dan juga sebelumnya mendapatkan Penghargaan Khusus dari Pemprov Bali tahun 2002, bersama dengan dr Denny Tong, dokter RSJ Bangli.

Ia berharap agar hasil karya ciptaannya lebih dihargai dengan tidak menjiplak dan wajib menyebut nama sumbernya. “Harapan saya syukur kalau (karya cipta saya) dihormati. Bentuk huruf yang dibuat jangan ditiru dan diberi nama lain. Itu Aja sih,” ucapnya.

Saat ini, kata dia, permintaan yang banyak muncul kepada Bali Simbar adalah permohonan bantuan dalam pembuatan awig-awig.

Selanjutnya, rencana ke depan yang akan dilakukan adalah bersama Lembaga Pembina Bahasa, Sastra dan Aksara Bali Fokus akan membuat kamus bahasa Bali yang sekaligus ada aksara Bali-nya. (wema satyadinata)

Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved