WIKI BALI

TRIBUN WIKI – Tradisi Unik yang Sayang Jika Lewatkan setelah Hari Raya Nyepi

Berikut Tribun Bali sajikan beberapa tradisi unik yang dilakukan setelah Hari Raya Nyepi yang sayang untuk dilewatkan.

TRIBUN WIKI – Tradisi Unik yang Sayang Jika Lewatkan setelah Hari Raya Nyepi
Tribun Bali/Rizal Fanany
Krama desa adat Kedonganan menggelar Tradisi Mebuug-buugan bertepatan dengan Ngembak Geni di hutan Mangrove jalan By Pass Ngurah Rai,Kedonganan,Jimbaran, Minggu (18/3). Setelah melumuri sekujur tubuh dengan lumpur,selanjutnya mereka menuju Pantai untuk melakukan pembersihan. 

Tradisi ini dilakukan oleh sekelompok pemuda dan pemudi berusia 17 hingga 30 tahun dengan yang saling tarik-menarik, memeluk, dan mencium pipi.

Kemeriahan semakin terasa saat muda-mudi bertabrakan, kemudian saat saling berangkulan itu mereka disiram dengan air.

Acara adat ini dilakukan sebagai bentuk kegembiraan, rasa syukur, sekaligus memupuk kebersamaan dan kekeluargaan.

Sebelum melakukan acara ini, semua peserta diwajibkan mengikuti upacara atau sembahyang di Pura Banjar.

Baca: Ramalan Cuaca BMKG Denpasar: Waspada Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang

Baca: Sulap Pantai Melasti jadi Daya Tarik Wisata, BUMDA Ungasan Kerja Sama dengan Pariwisata Unud

Baca: Sering Menatap Layar Ponsel di Kegelapan? Dampaknya Seperti Gangguan Penglihatan Orang Usia Lanjut

2. Mebuug-Buugan

Acara mebuug-buugan atau perang lumpur yang digelar di Desa Adat Kedonganan diikuti ratusan peserta dari anak-anak hingga dewasa, Kamis (10/3/2016).
Acara mebuug-buugan atau perang lumpur yang digelar di Desa Adat Kedonganan diikuti ratusan peserta dari anak-anak hingga dewasa, Kamis (10/3/2016). (TRIBUN BALI / RIZAL FANANY)

Tradisi Mebuug-buugan dimiliki oleh krama (warga) Desa Adat Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung.

Tradisi Mebuug-buugan diambil dari kata “buug” yang berarti tanah atau lumpur yang bermakna membersihkan diri di tahun baru ala Hindu.

Bagi mereka yang mengikuti Tradisi Mebuug-buugan ini, akan mengotori badan mereka dengan lumpur.

Dalam perang lumpur itu, semua pesertanya adalah kaum laki-laki dan perempuan dari semua usia.

Mereka berperang bersama-sama dengan menggunakan lumpur saling lempar dalam suasana keceriaan dan kebersamaan.

Usai mengotori diri di pantai bagian timur, ratusan peserta mebuug-buugan kemudian berjalan menuju pantai di bagian barat untuk membersihkan diri.

Bagi masyarakat awam, tradisi ini mungkin dirasa aneh, akan tetapi tradisi mebuug-buugan sudah ada sejak seratus tahun lalu.

Hanya saja, tradisi tersebut sempat terhenti selama 60 tahun dan baru pada tahun 2015 setelah melalui proses rekonstruksi.(*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved