Hari Raya Nyepi

Ketua PHDI: Ogoh-ogoh Tak Harus Dibakar, Setelah Diarak Bisa Dijual atau Dipajang Kembali

Dikatakan Ketua PHDI, membakar ogoh-ogoh tidak diwajibkan karena ogoh-ogoh telah disomia (dinetralkan) dengan tirta penyomian dan tirta tawur

Ketua PHDI: Ogoh-ogoh Tak Harus Dibakar, Setelah Diarak Bisa Dijual atau Dipajang Kembali
Tribun Bali/Ahmad Firizqi Irwan
Pawai ogoh-ogoh di Jalan Gajah Mada tampak ramai dan meriah ditonton ribuan masyarakat Kota Denpasar, Rabu (6/3/2019). 

Selain itu, kata dia, lahir bathin manusia agar tidak terganggu oleh kekuatan-kekuatan negatif maka bhuta kala dengan simbol ogoh-ogoh ini diusung atau diarak mengelilingi desa, dengan harapan agar seluruh masyarakat di desa itu mendapatkan vibrasi yang positif.

Baca: Dua Cara Menikmati Indahnya Nyepi di Bali, Ini Akan Sangat Berbeda Dari Daerah Lainnya

Baca: Berkah Nyepi Bagi Para Napi, 208 WBP Peroleh Remisi, 3 Orang Langsung Bebas

Seluruh vibrasi negatif yang disebut dengan bhuta kala supaya somia menjadi dewa. 

Dikatakannya, untuk bhuta kala akan somia pada saat pengerupukan, sedangkan manusia akan somia  pada saat melaksanakan catur brata penyepian, yaitu somia sad ripu dan somia sapta timira.

Lebih lanjut dikatakannya, catur brata ini merupakan salah satu dari media pendidikan manusia untuk bagaimana menyeimbangkan diri dengan alam, membuat agar bisa serasi dengan lingkungan, serasi dengan sesamanya dan serasi dengan Tuhan.

Catur brata ini akan memberikan media dan vibrasi yang positif kepada setiap orang yang melaksanakannya, sehingga dalam menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupan di masa atau tahun baru yang akan datang jauh lebih kuat dari tahun sebelumnya. (*)

Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved