Ngopi Santai

Karya Suci dan Politik yang Banal

Penyerahan catu dilakukan penuh seremonial di hadapan warga; dan karena simakrama digelar di sebuah pura, maka Ida Betara pun turut menyaksikannya.

Fenomena tadi bahkan menunjukkan bahwa politik praktis telah menunjukkan wajahnya yang paling banal, karena aktivitasnya telah menyelinap ke ranah ritual-ritual keagamaan yang seharusnya bersifat sakral dan bersih dari kepentingan politik.

Di beberapa wilayah di Bali, tanggung jawab beryadnya yang semula adalah wujud rasa bhakti tiap-tiap umat sebagai individu – yang sering pula dirasakan sebagai beban ekonomi – kini terasa sangat enteng.

Tidak ada lagi iuran untuk menghelat sebuah ritual adat-agama, karena beban-beban ekonomi untuk ‘yadnya’ itu  telah ditanggung oleh para pejabat dan orang-orang politik yang mengejar kekuasaan.

Aktivitas adat-agama di Bali pun menunjukkan dirinya yang tidak terlepas dari kekuatan capital; dan keduanya saling berkelindan dengan proses-proses politik.

Padahal, jika kesungguhan beragama seseorang dinilai dari rasa tulus dan ikhlas, maka yadnya seharusnya dilakukan dengan kesungguhan hati yang paling dalam – sesederhana apapun itu, bukan malah mengandalkan bantuan dari Caleg.

Lihatlah balai banjar yang gagah, pura yang megah, hingga karya ngenteg linggih, kerap dibangun menggunakan uang pejabat maupun Sang Pemedek yang Lain itu.

“Sekali lagi kami imbau, seluruh krama pangempon pura agar ketog semprong datang ngaturang bhakti saat puncak pujawali. Apalagi kami sudah mengundang Pak Bupati secara khusus dan beliau memastikan akan hadir…” demikian pengumuman panitia pujawali.

“Ne mara… Pokokne SSCGT (sangat super cenik gae to)…” sahut salah seorang warga yang dalam benaknya sudah membayangkan Pak Bupati yang bares itu tidak akan lupa membawa segempok uang. (*)

Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved