Smart Woman
Berbagi Pemikiran Lewat Tulisan, Cyntha Hariadi Rekam Potret Keluarga
Penulis kelahiran Tangerang, Cyntha Hariadi mengangkat tema keluarga melalui karya berupa puisi, cerpen, maupun novel.
Penulis: Ni Putu Diah paramitha ganeshwari | Editor: Widyartha Suryawan
TRIBUN-BALI.COM - Kisah tentang keluarga barangkali sudah lumrah dituangkan dalam karya, baik berupa puisi, cerpen, maupun novel. Penulis kelahiran Tangerang, Cyntha Hariadi pun mengangkat tema serupa.
Menurut Cyhtha, tema keluarga adalah sesuatu yang menarik. Ada banyak persoalan yang berangkat dari kehidupan di suatu rumah.
Satu tema besar ini pun menjadi ruh dari dua buku yang sudah ia terbitkan, kumpulan puisi Ibu Mendulang Anak Berlari dan kumpulan cerpen Manifesto Flora.
“Saya mengangkat tema keluarga bukan semata karena saya suka, namun lebih karena penting. Semua hal yang dialami tokoh tidak lepas dari bagaimana mereka dibesarkan oleh keluarganya,” ungkap Cyntha.
Untuk menyampaikan pemikirannya, Cyntha pun memiliki gaya menulis tersendiri. Ia sengaja memilih kata-kata yang sederhana, namun dirangkai membentuk makna dalam.
Cyntha pun berusaha menggambarkan potret keluarga yang jujur.
“Jujur dalam arti, kejadian di lingkup keluarga tak selalu menyenangkan. Dalam lingkup keluarga tak hanya ada kasih sayang, namun juga perasaan negatif misalnya marah, iri, dan sebagainya. Konflik inilah yang saya ingin munculkan,” tutur Juara III Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015 ini.
Sebagai penulis, Cyntha menganggap kehidupan keluarga sangat kompleks. Sayang sekali apabila hal ini hanya dilihat dari satu sudut pandang.
Cyntha Hariadi mulai mengembangkan diri pada bidang tulis-menulis selepas lulus kuliah sarjana. Wanita alumni FISIP Universitas Katolik Parahyangan, Bandung ini memilih karier sebagai jurnalis. Ia menulis untuk koran dan majalah.
Menulis puisi dan cerpen ia lakukan sebagai selingan di tengah rutinitas hariannya.
“Awalnya saya tak begitu ambil pusing mengkategorikan tulisan saya. Akan jadi cerpenkah atau puisi, saya tidak begitu paham. Yang penting bagi saya saat itu adalah menulis untuk sekadar menyenangkan hati,” ungkapnya.
Aktivitas menulis ini pun tetap ia lakukan ketika melanjutkan kuliah magisternya di Amerika Serikat, bahkan ketika bekerja di bidang periklanan sebagai copywriter. Namun tulisan puisi dan cerita yang dibuatnya tak satu pun diikutkan dalam lomba atau dikirim ke media untuk diterbitkan.
Keikutsertaan Cyntha dalam lomba sastra baru dimulai pada 2015, saat ia sudah memiliki Willa, putri pertamanya. Ia kebetulan menemukan poster lomba manuskrip buku puisi yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta.
Satu perasaan yang terbesit di benaknya pada waktu itu adalah keinginan untuk mencoba. Sambutan yang ia terima atas manuskrip puisi pertamanya pun positif. Ini pun menjadikannya semakin percaya diri untuk menulis.
Kini wanita yang bekerja sebagai penulis lepas ini pun berencana menulis buku berikutnya. Ia pun ingin mencoba hal baru dengan menulis novel dan satu buku tentang pengkajian budaya.
“Tema yang saya angkat tetap beranjak dari tema keluarga. Tema ini kadang dianggap remeh oleh orang lain karena terkesan sangat biasa. Namun dengan teknik penceritaan yang menarik, tema ini bisa menjadi karya luar biasa,” ujar Cyntha. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/cyntha-hariadi-1.jpg)