Mengenal Lebih Dekat Kartun Editorial Dalam Kelas Kreatif Karikatur

Kelas Kreatif Karikatur di Bentara Budaya Bali kali ini difokuskan pada seluk beluk kartun editorial yang muncul berkala di media massa

Mengenal Lebih Dekat Kartun Editorial Dalam Kelas Kreatif Karikatur
Bentara Budaya Bali
Kelas Kreatif Karikatur di Bentara Budaya Bali (BBB), pada Sabtu (16/3/2019). 

“Hal utama yang harus diperhatikan seorang kartunis sewaktu membuat karikatur yaitu harus memiliki sumber yang tepercaya. Selain itu kita tidak boleh menyebut nama tokoh tertentu secara langsung, serta jangan menggunakan simbol-simbol agama dan tidak menampilkan pornografi. Sebuah karikatur dapat menggiring opini publik terhadap suatu fenomena tertentu, namun di saat bersamaan juga ada kalimat atau istilah yang diplesetkan untuk menjaga kesan humor, serta tidak secara langsung menyinggung pihak tertentu,” ungkap Nuriarta.

Kartun editorial selama ini lebih mengemuka sebagai sarana kritik sosial dan politis.

Baca: Polres dan Polsek di Badung Bersinergi Amankan Tempat Pelaksanaan Kegiatan Politik

Baca: Warga Menduga Pemuda 19 Tahun Kerasukan, Tega Bunuh Ibu Kandung dan Tikam 5 Orang

Gambar-gambar dalam kartun editorial bukan semata luapan bebas dari gores garis sang kreator, melainkan menuntut pula kesanggupan penciptanya untuk mengedepankan unsur hiperbola dan satir dalam mengkritisi problematik sosial, politik, semisal korupsi.

Tidak mengherankan bila sosok-sosok dalam kartun editorial ini dikenal publik sebagai figur-figur yang bertutur.

Giliran berikutnya, berbagai majalah satire menjadi media utama karikatur; peran yang kemudian dilanjutkan oleh surat kabar harian pada abad ke-20.

Di Indonesia sendiri, dunia kartun memiliki sejarah yang terbilang panjang, terutama sosok–sosok ikoniknya yang sohor dan diterbitkan di media massa, semisal: Oom Pasikom (karya GM Sudarta), Wayang Mbeling (Gunawan Pranyoto), Panji Koming (Dwi Kundoro), dan Si Keong (Pramono R. Pramoedjo). Termasuk pula sosok ikonik buah karya kartunis Bali, semisal: Si Gug (Jango Pramartha), Sangut Delem (Gus Martin), Bang Nus (Cece Riberu), Brewok (Gun Gun), Mr. Bali (Surya Dharma), dan Si Sompret (Wayan Sadha).

Baca: Pelaku Skimming ATM Dibekuk Polda Bali, Sempat Terlibat Aksi Kejar-kejaran dengan Polisi

Baca: FOTO: Aksi Timnas U-23 Indonesia Lumat Bali United di Stadion Kapten I Wayan Dipta

“Selama ini, sebagai kartunis, ada tiga hal yang saya perhatikan ketika akan membuat karikatur. Pertama, saya menyadari bahwa saat ini banyak hoax yang beredar. Maka kartun karya saya harus terlepas dari hoax atau berita bohong, caranya yaitu dengan mencari referensi yang tepercaya. Kedua, karena saya orang Bali, maka kartun saya harus juga mencerminkan sisi budaya Bali. Terakhir, kartun yang saya buat selalu disertai “bukti”. Karikatur yang saya buat adalah respon dari sebuah pernyataan atau tajuk berita di surat kabar,” ujarnya. 

Nuriarta menyebutkan karikatur pertama yang muncul di media massa Indonesia yakni di Fikiran Rakjat tahun 1932, dibuat oleh Soemini, yang mana diyakini sebagai nama samaran yang digunakan Soekarno.

Ia juga menjelaskan perbedaan antara karikatur dan kartun secara terminologi, juga beberapa jenis kartun, antara lain kartun editorial, kartun opini, maupun komik strip.

Kelas Kreatif ini juga tertaut program Pameran Kartun Ber(b)isik yang akan berlangsung di Bentara Budaya Bali pada 29 Maret-9 April 2019, menampilkan kartunis Beng Rahadian, Didie SW, Ika W. Burhan, Mice Cartoon, Rahardi Handining dan Thomdean. (*)

Editor: Irma Budiarti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved