BKKBN Bali Tak Kampanyekan Vasektomi, Catur Sebut Pasangan Usia Subur Bebas Pilih Alat Kontrasepsi

Bahwa pemilihan kontrasepsi ini kita serahkan kepada sistem cafetaria, keluarga-keluarga diberi kesempatan untuk memilih penggunaan alat kontrasepsi

BKKBN Bali Tak Kampanyekan Vasektomi, Catur Sebut Pasangan Usia Subur Bebas Pilih Alat Kontrasepsi
Tribun Bali/Wema Satya Dinata
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Catur Sentana 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR -Terkait usulan penghapusan KB dengan vasektomi di Bali oleh Gubernur Bali, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Catur Sentana mengatakan jenis kontrasepsi dengan Vasektomi ini sifatnya sangat terbatas dan selektif.

Bahkan Catur menyebutkan BKKBN tidak mengkampanyekan vasektominya namun pihaknya mengkampanyekan bagaimana penggunaan alat kontrasepsi dengan sistem cafetaria, sesuai kebutuhan, keinginan dan keputusan yang diambil oleh pasangan usia subur untuk menggunakannya.

“Bahwa pemilihan kontrasepsi ini kita serahkan kepada sistem cafetaria, keluarga-keluarga diberi kesempatan  untuk memilih penggunaan alat kontrasepsi yang sesuai untuk pasangan usia subur,” kata Catur usai mengikuti Rapat koordinasi daerah di Hotel Grand Inna Bali Beach Sanur, Senin (18/3/2019).

Catur menambahkan khusus untuk vasektomi ini tidak semua pasangan usia subur mau melakukan itu.

Baca: Korban Bersimbah Darah Lalu Tewas di Jalan Raya Denpasar-Gilimanuk, Tubuhnya Terlempar ke Truk

Baca: Dalam 4 Hari, 20 Penyu Langka Diamankan dalam Dugaan Penyelundupan, TCEC Sebut Modus Perdagangan

“Jadi mungkin saja dalam pasangan usia subur itu ingin mengakhiri suatu kehamilan. Ibunya ingin mengakhiri kehamilan. Itu bisa saja menggunakan alat kontrasepsi yang mantap, apakah untuk istrinya atau suaminya.

Sehingga kalau keluarga sudah memutuskan untuk menggunakan alat kontrasepsi sesuai dengan kebutuhan dan keinginan, inilah yang kita butuhkan ke depan,” terangnya.

Dikatakannya untuk Provinsi Bali sendiri angka kelahiran total sudah sangat ideal yaitu mencapai 2,1 per Wanita Usia Subur (WUS) pada tahun 2018.

Selanjutnya, mengenai program pembangunan kependudukan dan keluarga berencana akan diarahkan pada pendekatan kualitas.

Sehingga diharapkan bagaimana agar keluarga-keluarga ini nantinya bisa cerdas, kuat dan tangguh. 

Baca: Tangis Wanita Cantik ini Pecah di PN Denpasar, Rahasia bareng Suami Terungkap Saat Kamar Kos Dibuka

Baca: Bule Perancis Pengedar Narkoba Diringkus Polresta Denpasar, BB Ganja hingga Sabu Didapat dari NTB

“Apa yang dibicarakan oleh Pak Gubernur, kita tidak bicara soal kuantitas tapi kita memfokuskan berbicara soal kualitas. Itu harapan Pak Gubernur, sehingga nanti program-programnya kita bisa melihat berdasarkan pendekatan siklus hidup mulai dari seribu hari kehidupan pertama. Kemudian juga dengan pelaksanaan kelompok bina keluarga balita, bina keluarga remaja dan bina keluarga lansia,” tuturnya.

Halaman
12
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved