Penitipan Jenazah Membludak Akibat Salah Tafsir, PHDI Imbau Warga Ambil Jenazah di RS

Dari pertemuan tersebut, warga diimbau mengambil jenazah yang dititipkan di rumah sakit untuk segera dikubur atau dibakar.

Penitipan Jenazah Membludak Akibat Salah Tafsir, PHDI Imbau Warga Ambil Jenazah di RS
Tribun Bali/Putu Supartika
┬áJenazah yang dititipkan di kamar jenazah RSUD Wangaya, Denpasar, Selasa (19/3/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Gubernur Bali, Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, dan Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) menggelar pertemuan menyikapi fenomena membludaknya penitipan jenazah di rumah sakit, Selasa (19/3).

Dari pertemuan tersebut, warga diimbau mengambil jenazah yang dititipkan di rumah sakit untuk segera dikubur atau dibakar.

Sebelumnya, PHDI Bali mengeluarkan imbauan larangan ngaben dari 20 Januari hingga 4 April 2019 serangkaian upacara Panca Wali Krama di Pura Agung Besakih.

Namun bagi masyarakat biasa masih boleh mengubur jenazah (makingsan ring pertiwi), dan untuk sulinggih dan pemangku boleh dibakar (makingsan ring geni).

Baca: Komplotan WNA Rusia Jadi Otak Perampokan Money Changer di Benoa, Satu Ditembak Mati Satu Kritis

Namun pada kenyataannya, banyak masyarakat yang salah tafsir atas aturan tersebut. Mereka tidak melakukan penguburan dan justru menitipkan jenazah keluarga yang meninggal di rumah sakit.

Padahal larangan yang dikeluarkan oleh PHDI Provinsi Bali bukanlah larangan mengubur atau membakar melainkan hanya larangan untuk upacara ngaben.

Dalam pertemuan di Ruang Rapat Praja Sabha Kantor Gubernur Bali di Denpasar, kemarin, Ketua PHDI Bali Prof I Gusti Ngurah Sudiana mengaku pihaknya sudah mencermati hal ini dengan baik.

Baca: Koster Naikkan Tunjangan Jabatan Kepala SMA/SMK Se-Bali, dari Rp 1,5 Juta Jadi Rp 6,2 Juta Per Bulan

Dalam aturan tersebut, kata Sudiana, sudah diuraikan dengan sangat jelas bahwa jika terdapat sanak keluarga yang meninggal maka sulinggih atau pemangku boleh makingsan ring geni (dibakar) sementara untuk orang walaka (orang biasa) bisa makingsan ring pertiwi (dikubur).

“Ini terjadi kesalahpahaman oleh umat Hindu. Yang tidak diperbolehkan itu ngaben, kalau makingsan di pertiwi atau di geni boleh. Ini ada salah paham, sehingga jenazah keluarga yang ditingalkan dititipkan di rumah sakit. Ini tidak benar,” ujarnya di hadapan Gubernur Bali, Wayan Koster.

Jenazah yang dititipkan di kamar jenazah RSUD Wangaya, Selasa (19/3/2019).
Jenazah yang dititipkan di kamar jenazah RSUD Wangaya, Selasa (19/3/2019). (Tribun Bali/Putu Supartika)

Untuk itu ia meminta bagi masyarakat yang menitipkan jenazah keluarganya di rumah sakit agar segera diambil untuk dikuburkan atau dibakar.

Halaman
1234
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved