Biaya Upakara Bisa Dua Kali Lipat Jadi Alasan Warga Belum Mau Ambil Jenazah yang Dititipkan di RS

Jika dilakukan penguburan, kata dia, akan berpengaruh pada proses pembiayaan upacara yang akan dikeluarkan jadi membengkak dua kali lipat.

Biaya Upakara Bisa Dua Kali Lipat Jadi Alasan Warga Belum Mau Ambil Jenazah yang Dititipkan di RS
Tribun Bali/Made Prasetya Aryawan
MENUMPUK - Seorang petugas tampak merawat salah satu jenazah di ruang jenazah BRSU Tabanan, Rabu (20/3). Tampak jenazah menumpuk di ruangan ini. 

Biaya Upakara Bisa Dua Kali Lipat Jadi Alasan Warga Belum Mau Ambil Jenazah yang Dititipkan di RS. Jika dilakukan penguburan, kata dia, akan berpengaruh pada proses pembiayaan upacara yang akan dikeluarkan jadi membengkak dua kali lipat. '

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Parisadha Hindu Darma Indonesia (PHDI) Bali dan Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) mengimbau warga mengambil jenazah keluarganya yang dititipkan di rumah sakit.

Namun sejumlah warga memilih tetap menitipkan jenazah hingga upacara Panca Wali Krama di Pura Agung Besakih selesai.

Putu Suparta, warga yang tinggal di bilangan Jalan Nangka Selatan, Denpasar, menuturkan meski ada imbauan terbaru dari PHDI dan MUDP Bali, pihak keluarganya memutuskan tidak mengambil jenazah neneknya untuk dikuburkan atau makingsan ring pertiwi.

Jika dilakukan penguburan, kata dia, akan berpengaruh pada proses pembiayaan upacara yang akan dikeluarkan jadi membengkak dua kali lipat. '

'Nanti kan setelah dikubur, diangkat lagi, itu ada upacara lagi. Biayanya jadi dua kali. Jadi, keluarga putuskan untuk jenazah tetap dititip,'' kata dia ditemui Tribun Bali saat mapunjung di kamar jenazah RSUP Sanglah, Denpasar, Rabu (20/3/2019).

Baca: Lika-liku Kehidupan Kamis Kliwon Menaik, Cek di Sini

Baca: Gubernur Minta Minimal 10 Ribu Orang Harus Hadir, 2 Ribu Penari Akan Sambut Presiden di Pasar Badung

Baca: Pejabat Ngayah Nedunang Ida Bhatara dan Puncak Karya Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih

Suparta melanjutkan, rencananya pihak keluarga akan mengambil jenazah neneknya sekitar April 2019 mendatang setelah nyineb di Besakih.

Saat itu akan dilaksanakan upacara pengabenan.

Hal senada diungkapkan Wayan Rentin, warga asal Klungkung. Ia juga tidak berencana mengambil jenazah keluarganya yang dititipkan di RSUP Sanglah meski ada imbauan baru dari PHDI dan MUDP.

Pihak keluarga, kata dia, masih menanyakan hal ini kepada para sulinggih dan bendesa di desanya.

Halaman
12
Penulis: eurazmy
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved