Kalimat Ini Jadi Salah Tafsir Menurut Ketua PHDI Bangli hingga Penitipan Jenazah di RS Membludak

alam surat edaran tersebut yang berbunyi setelah tanggal 1 Februari 2019 ada umat Hindu yang meninggal, tidak diperbolehkan melakukan upacara pengaben

Kalimat Ini Jadi Salah Tafsir Menurut Ketua PHDI Bangli hingga Penitipan Jenazah di RS Membludak
Tribun Bali/Putu Supartika
 Jenazah yang dititipkan di kamar jenazah RSUD Wangaya, Denpasar, Selasa (19/3/2019). 

Kalimat Ini yang Jadi Salah Tafsir Menurut Ketua PHDI Bangli hingga Penitipan Jenazah di RS Membludak

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bangli, I Nyoman Sukra, menilai fenomena penuhnya kamar jenazah di sejumlah rumah sakit sejatinya karena kesalahan dalam menerjemahkan surat edaran dari PHDI Provinsi Bali.

Hal ini melahirkan berbagai persepsi berbeda.

Sukra menjelaskan, dalam surat edaran tersebut yang berbunyi setelah tanggal 1 Februari 2019 ada umat Hindu yang meninggal, tidak diperbolehkan melakukan upacara pengabenan sampai Ida Bhatara di Besakih Masineb (15 April).

Kalau yang meninggal warga biasa (walaka) maka caranya dengan kesuluban (dititipkan) tidak dengan upacara.

“Dititipkan inilah yang melahirkan salah tafsir, yakni dititipkan di rumah sakit."

Baca: Begini Skema Polisi Ungkap Komplotan Rusia, Hanya Butuh 2 Jam, Senjata Serbu Masih Misteri

Baca: Deal dengan Liana, Lukman Langsung Bertemu di Kamar Kosan, 10 Menit Kemudian Apes

Baca: Belasan Butir Peluru di Tangan Perampok Asal Rusia Diamankan, Polisi: Itu Magazine SS1 Milik Brimob

Baca: Bali United Datangkan Pemain Persela Lamongan Fahmi Al Ayyubi, Yabes: Tinggal Tes Medis

"Padahal itu masih ada jalan, dititipkan boleh dibakar (makingsan di geni) atau dikubur (makingsan di pertiwi), tetapi itu disulubkan artinya tidak menggunakan piranti adat, dalam artian tidak ada upacara tertutama (pemberian) tirta pengentas,” jelasnya.

“Di mana pun disulubkan boleh. Di api boleh, di pertiwi boleh. Sementara untuk sulinggih, caranya dengan ngelelet sampai munggah tumpang salu. Jadi orang yang tidak memahami, tidak mau bertanya, dan justru mengartikan sendiri, inilah jadinya. Sebaliknya jika dia mau bertanya, tidak ada kok mayat sampai numpuk-numpuk gitu,” ucapnya.

Kata Sukra, walaupun ada kerabat yang meninggal, umat Hindu tidak ada yang sebel atau cuntaka.

Pasalnya seluruh umat sudah diperciki tirta pemarisudha pada tanggal 1 sampai 2 Februari 2019.

Jelasnya, tirta pemarisudha adalah tirta yang membersihkan semua umat dari segala kekotoran maupun kecuntakaan.

Sedangkan bagi masyarakat yang meninggal dan belum diaben sebelum tanggal 1 Februari itu, juga diberikan tirta pengandeg agar tidak nyebelin karya.

“Masyarakat yang menganggap dirinya sebel saat ada keluarga yang meninggal, itu hanya perasaan mereka saja. Secara agama, berdasarkan putusan sulinggih tidak ada kata sebel, karena mereka sudah diparisudha, sudah dibersihkan,” jelasnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Rizki Laelani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved