Dari Gunakan Kayu Bakar, Kompor, Hingga Dioven, Prof Duija Jelaskan Perubahan Cara Ngaben di Bali

Guru Besar Antropologi Budaya IHDN Denpasar, Prof. Dr. I Nengah Duija mengatakan saat ini masih ada beberapa persoalan keagamaan di Bali.

Dari Gunakan Kayu Bakar, Kompor, Hingga Dioven, Prof Duija Jelaskan Perubahan Cara Ngaben di Bali
Tribun Bali/Wemasatya
Guru Besar Antropologi Budaya IHDN Denpasar, Prof. Dr. I Nengah Duija saat menjadi pembicara dalam Seminar budaya yang dirangkaikan dengan acara Dharma Santhi Penyepian Tahun Saka 1941 di Gedung Agrokomplek Universitas Udayana Denpasar, Sabtu (23/3/2019). 

 
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Guru Besar Antropologi Budaya IHDN Denpasar, Prof. Dr. I Nengah Duija mengatakan saat ini masih ada beberapa persoalan keagamaan di Bali.

Ia membagi masyarakat Hindu di Bali menjadi dua bagian, di mana ada yang arus pemikirannya beragama formal dan ada yang arus pemikirannya beragama substansi. 

 
Lanjutnya, sekarang yang menjadi persoalan adalah ketika ada pihak arus pemikiran beragama formal melihat pihak beragama lainnya, melakukan pengingkaran terhadap tata nilai tradisi Bali maka dianggap sebagai sebuah pertentangan.

 
Ia mencontohkan pada awalnya pembakaran jenazah (ngaben) di Bali menggunakan bahan alami seperti kayu bakar.

Berikutnya terjadi perubahan budaya  yaitu dengan menggunakan kompor.

Penggunaan kompor itu pun mendapat pertentangan habis-habisan karena dianggap terlalu sadis untuk membakar jenazah.

 
Setelah kompor, kata dia, muncul lagi cara berikutnya yaitu kremasi dengan menggunakan oven.

“Dengan oven itu, kemudian diperdebatkan lagi karena dianggap tidak sesuai dengan kaidah Agama (Hindu) kita,” kata Prof.Duija saat menjadi pembicara dalam Seminar budaya yang dirangkaikan dengan acara Dharma Santhi Penyepian Tahun Saka 1941 di Gedung Agrokomplek Universitas Udayana Denpasar, Sabtu (23/3/2019).

 
Ia menerangkan padahal perubahan cara itu terjadi akibat saat ini kayu bakar mulai terbatas.

“Dulu masyarakat masih bisa menggunakan kayu bakar, namun sekarang sudah tidak ada lagi sehingga berkembang menggunakan kompor hingga oven."

Halaman
12
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved