Tercantum dalam Saramuscaya, Karakter Manusia Hindu Adalah Pradnya, Begini Penjelasannya

Prof yudha menyampaikan materi tentang Nyepi dan implementasi dalam memperkokoh kebhinekaan di era milenial

Tercantum dalam Saramuscaya, Karakter Manusia Hindu Adalah Pradnya, Begini Penjelasannya
TRIBUN BALI/RIZAL FANANY
Seorang pemedek berusia muda tampak khusuk menghaturkan doa bersama ratusan Umat Hindu yang memadati Pura Sakenan Desa Pekraman Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, Sabtu (5/1/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Forum Persaudaraan Mahasiswa Hindu Dharma Universitas Udayana menyelenggarakan Seminar budaya yang dirangkaikan dengan acara Dharma Santhi Penyepian Tahun Saka 1941 di Ruang Nusantara Gedung Agrokomplek Universitas Udayana, Sabtu (23/3/2019).

Salah satu narasumber yang dihadirkan untuk memberikan pemaparan adalah Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI periode 2006-2014, Prof Dr Ida Bagus Yudha Triguna.

Prof yudha menyampaikan materi tentang Nyepi dan implementasi dalam memperkokoh kebhinekaan di era milenial.

Baca: Bali Masuki Musim Transisi dari Penghujan Menuju Kemarau, Berikut Perkiraan Cuaca 3 Hari ke Depan

Baca: Cegah Kejahatan Lintas Negara Melalui Genk Motor, AFP Bekerja Sama Dengan Polresta Denpasar

Menurutnya Hari Raya Nyepi memiliki makna bagaimana cara membangun karakter manusia Hindu.

Selain itu, dalam Nyepi juga bermakna mengendalikan krodha (rasa marah) guna membangun kestabilan jiwa.

Lebih lanjut Prof Yudha menjelaskan terkait apa itu karakter manusia Hindu.

Dalam sloka 299 sampai 313 Kitab Saramuscaya dipertegas kembali bahwa karakter manusia Hindu adalah pradnya.

Baca: Bentuk Plafon Kamar Tidur Mempengaruhi Rezeki Penghuninya, Ini Menurut Feng Shui

Baca: WNA Rusia Diamankan Setelah Selundupkan Anak Orang Utan yang Telah Dibius, Dimasukkan ke Keranjang

Yang dimaksud pradnya yaitu menguasai kompetensi sesuai dengan swadharma masing-masing.

“Kalau menjadi guru maka kuasailah kompetensi sebagai seorang guru. Kalau menjadi seniman kuasailah kompetensi menjadi seniman. Itulah yang disebut pradnya. Orang Hindu harus pradnya. Itu disebutkan dalam sloka 302,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, ada beberapa cara untuk menguasai kompetensi, antara lain pertama, bisa dilakukan dengan banyak bergaul.

Halaman
12
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved