Polda Bali Lanjutkan Dugaan Kasus Paedofilia, Ipung Ditanyai 19 Pertanyaan oleh Penyidik

Ipung saat ditemui usai dipanggil sebagai pelapor mengungkapkan, dirinya mendapat 19 pertanyaan dari penyidik Polda Bali dalam pemanggilan itu.

Polda Bali Lanjutkan Dugaan Kasus Paedofilia, Ipung Ditanyai 19 Pertanyaan oleh Penyidik
Kompas.com
Ilustrasi paedofilia 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Babak baru dalam penyelidikan dugaan kasus Paedofilia di sebuah ashram di Klungkung akhirnya bergulir.

Usai beberapa waktu lalu Polda Bali sempat menyatakan tidak melanjutkan kasus tersebut karena beberapa alasan, kini kasus dugaan paedofilia tersebut akan dilanjutkan.

Kemarin, akhirnya Polda Bali melanjutkan penyelidikan dugaan kasus tersebut. 

Hal itu ditandai dengan dipanggilnya aktivis pemerhati anak Siti Sapurah alias Ipung ke Mapolda Bali, Senin (25/3/2019) siang.

Ipung saat ditemui usai dipanggil sebagai pelapor mengungkapkan, dirinya mendapat 19 pertanyaan dari penyidik Polda Bali dalam pemanggilan itu.

"Saya dipanggil dan di-BAP-kan. Intinya saat penyelidikan dihentikan, saya langsung berinisiatif langsung bersurat kepada Kapolda untuk mempertanyakan mengapa dihentikan. Padahal, menurut saya, Kapolda sendiri mengakui ada korban, ada pertemuan di rumah Prof Suryani, sehingga (penghentian penyelidikan, red) sepertinya kontradiktif dengan pernyataan bapak di press release, saya bilang begitu. Akhirnya saya beranikan diri mengirim surat pada 11 Maret 2019. Dan langsung ditanggapi serius 13 Maret 2019," kata Ipung kemarin.

Ipung yang mulai diperiksa sejak Senin (25/3/2019) siang hingga sore, mengungkapkan, pada 13 Maret 2019 lalu sudah dibuatkan laporan dalam bentuk Dumas (Pengaduan Masyarakat) oleh Polda Bali, menindaklanjuti surat yang dilayangkannya itu.

"Nah tanggal 19 Maret 2019 saya ditelepon oleh penyidik untuk datang pada Senin (25/3/2019) untuk dipanggil ke Polda Bali sebagai pelapor. Tadi ada 19 pertanyaan yang dilontarkan tim penyidik kepada saya. Di antaranya, yang ditanyakan ialah kapan Ipung mengetahui bahwa GI diduga melakukan kekerasan seksual terhadap anak di ashram. Saya bilang, saya sudah mendengar hal itu sejak tahun 2008, namun saya belum tahu GI itu siapa. Baru pada tahun 2015 saya diundang resmi oleh Prof Suryani melalui mbak Anggreni, dan saat itu baru saya tahu," ungkap Ipung kepada Tribun Bali..

Dia melanjutkan, penjelasannya pada pemanggilan pertama dan yang kedua kurang lebih sama.

Perbedaannya pada pemanggilan kedua ini, penjelasannya sudah dituangkan dalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan). 

Halaman
12
Penulis: Busrah Ardans
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved