Wagub NTT: Kalau Mau Lihat Komodo yang Asli, Bayarnya Harus Mahal

Orang dari seluruh dunia mau lihat Komodo yang asli, sehingga pihaknya mau kembalikan habitat komodo ke habitat semula

Wagub NTT: Kalau Mau Lihat Komodo yang Asli, Bayarnya Harus Mahal
bookmundi.com
Taman Nasional Komodo Ditutup. 

TRIBUN-BALI.COM, KUPANG- Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur ( NTT) Josef Nae Soi, mengatakan, pihaknya telah menetapkan pariwisata sebagai prime mover ekonomi NTT.

Karena itu sebut Josef, sejumlah langkah nyata telah mulai dibuat oleh Pemerintah Provinsi di antaranya pemberlakuan English Day.

Selain itu yang paling penting yakni upaya untuk melakukan konservasi terhadap Komodo dengan menutup Pulau Komodo selama setahun.

Menurut Josef, orang dari seluruh dunia mau lihat Komodo yang asli, sehingga pihaknya mau kembalikan habitat komodo ke habitat semula.

"Komodo yang asli, begitu lihat mangsanya, dia langsung kejar, liar dan buas. Juga kita ingin kembalikan ekosistem dan rantai makanan di pulau Komodo. Kemudian kita jual ke dunia dengan sistem kuota. Kalau mau liat yang asli, bayarnya harus mahal,” jelas Josef, saat bertemu dengan sejumlah anggota DPR RI dan pejabat dari Kementerian Pariwisata, Selasa (26/3/2019).

Langkah lainnya, lanjut Josef, adalah dengan mendorong kabupaten dan kota untuk melakukan festival seperti festival Komodo di Manggarai Barat, Pasola di Sumba, Ikan Paus di Lembata.

Selanjutnya, panggil Ikan duyung di Alor, Reba di Bajawa, Kelaba Maja di Sabu, Semana Santa dan festival-festival lainnya.

Kerja sama Josef menyebut, keterlibatan Pemerintah Pusat dalam mendukung berbagai kegiatan festival ini sangat dibutuhkan.

“Kami juga berupaya untuk menyiapkan sumberdaya manusia berkualitas untuk mengembangkan pariwisata. Sekarang kami lagi seleksi untuk mendapatkan pemuda-pemudi NTT sebanyak 25 orang untuk magang pendidikan vokasional pariwisata di Griffith University Queensland Australia," jelasnya Pihaknya lanjut Josef, bekerja sama dengan Universitas Nusa Cendana Kupang.

Sedangkan dananya bukan dari APBD tapi dari CSR dan sumber pendanaan lainnya.

"Kami juga berkoordinasi dengan Menteri Komunikasi dan Informatika untuk mendukung jaringan internet dalam pengembangan pariwisata," ujar dia.

Josef juga meminta dukungan khususnya pendanaan dari pemerintah pusat terkait aksesibilitas infrastruktur ke daerah pariwisata.

Juga, untuk pengembangan akomodasi masyarakarat dalam mengembangkan pariwisata.

“Kami minta dukungan pengembangan bandara di Kabupaten Sabu Raijua. Kami juga kesulitan untuk mengembangkan apa yang kami namakan Ring of Beauty terutama kapal-kapal fery untuk melayani dan menghubungkan satu daerah ke daerah lainnya di NTT," kata Josef.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Wagub NTT: Kalau Mau lihat Komodo yang Asli, Bayarnya Harus Mahal"

Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved