Bali Surplus Daging Ayam 71.000 Ton, Pasokan dari Luar Bali Akan Dikaji Ulang

Menurut Mardiana, yang menjadi permasalahan mendasar bagi pengusaha daging ayam di Bali karena adanya disparitas harga yang sangat mencolok

Bali Surplus Daging Ayam 71.000 Ton, Pasokan dari Luar Bali Akan Dikaji Ulang
Tribun Bali/Wema Satya Dinata
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali I Wayan Mardiana 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali menerima aspirasi dari asosiasi peternak ayam broiler terkait banyaknya daging ayam yang didatangkan dari luar Pulau Bali padahal sejatinya Bali mengalami surplus daging ayam.

“Koordinasi hari ini dengan melibatkan beberapa unsur dari karantina, PTSP,  asosiasi peternak ayam broiler dan Dinas peternakan Provinsi untuk menyamakan persepsi yang berkaitan dengan indikasi banyaknya daging ayam dari luar Bali yang masuk ke Bali,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali I Wayan Mardiana usai pertemuan, Jumat (29/3/2019).

Menurut Mardiana, yang menjadi permasalahan mendasar bagi pengusaha daging ayam di Bali karena adanya disparitas harga yang sangat mencolok antara harga ayam hidup di Jawa dengan di Bali. 

Baca: 2 Siswa SMP di Kuta Diamankan Polisi Gara-gara Temukan Handphone di Jalan, Fakta Ini Terungkap

Baca: Alasan Pinjam HP untuk Telpon Keluarga karena Adik Kecelakaan, Ketut Tanggu Malah Lakukan Hal Jahat

Harga ayam hidup per kilogram di Jawa Tengah adalah Rp 13 ribu sampai Rp 15 ribu. Di Banyuwangi harganya Rp 15 ribu sampai Rp 16 ribu. Sedangkan di Bali harganya Rp 17 ribu sampai Rp 18 ribu. 

“Disparitas harga inilah yang memicu banyaknya daging ayam yang masuk ke Bali,” ujarnya. 

Di samping itu, harga daging ayam potong di Bali cukup baik dan stabil berada di atas HET (Harga Eceran Tertinggi) Rp 34 ribu, namun bisa dijual Rp 36 ribu hingga Rp 37 ribu sehingga menarik bagi pengusaha luar Bali untuk menjual daging ayam ke Bali.

“Sehingga kalau daging ayam itu dipotong di Jawa dan kemudian dijual ke Bali maka selisihnya kan masih cukup banyak,” ucapnya.

 
Ia mengungkapkan, pelaku-pelaku usaha dari Jawa yang memasukkan daging ayam ke Bali juga tanpa melengkapi dokumen-dokumen yang dipersyaratkan oleh pihak Dinas Peternakan Provinsi Bali.

Persyaratan itu antara lain, harus ada surat rekomendasi pemasukan dari daerah tujuan dan rekomendasi pengeluaran dari daerah asal. 

Baca: Rumah Dinas dan UKS Jadi Saksi Bisu Penderitaan 12 Murid SD Saat Dicabuli Oknum Guru

Baca: Kompetisi Musik Bertajuk Finding Folk Music Competition Diadakan di Park23 Entertainment Center

Namun, persyaratan surat rekomendasi pemasukan dan pengeluaran ini tidak diharuskan untuk dilampirkan oleh pihak Balai Karantina Hewan.

Halaman
12
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved