Target Pegadaian di Lombok Capai Rp 1 Triliun, Mariawan Sebut Target Denpasar Paling Tinggi

Target outstanding loan (OSL) PT Pegadaian Kanwil VII Denpasar pada 2019, untuk seluruh wilayah Bali, NTB dan NTT mencapai Rp 4,5 triliun.

Humas PT Pegadaian kanwil VII Denpasar
Asisten Manager Humas PT Pegadaian Kanwil VII Denpasar, Made Mariawan 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Target outstanding loan (OSL) PT Pegadaian Kanwil VII Denpasar pada 2019, untuk seluruh wilayah Bali, NTB dan NTT mencapai Rp 4,5 triliun.

Dari target ini, target untuk wilayah Ampenan (Lombok) paling tinggi yakni mencapai Rp 1 triliun lebih.

Selain OSL, target nasabah pada 2019 diharapkan menjadi 1,3 juta, dengan 2,3 juta rekening, kemudian revenue Rp 1,4 triliun, dan laba Rp 700 miliar.

“Sebenarnya area Denpasar target OSLnya paling tinggi, karena cabangnya paling banyak. Tetapi karena per Maret kemarin area Denpasar dibagi menjadi dua, jadi kelihatan targetnya kecil,” jelas Asisten Manager Humas PT Pegadaian Kanwil VII Denpasar, Made Mariawan, kepada Tribun Bali, Kamis (28/3/2019).

Secara rinci, ia menjabarkan target OSL di area Ampenan selama 2019 mencapai Rp  1,056 triliun.

Kemudian area Dompu Rp 877 miliar, area Ende Rp 655 miliar, area Kupang Rp 550 miliar, area Denpasar 1 Rp 694 miliar, area Denpasar 2 Rp 651 miliar.

Sehingga total target OSL keseluruhan mencapai Rp 4,486 triliun di Bali, NTB, dan NTT.

Baca: Efektif Bantu Kepolisian, Pemkab Klungkung Akan Tambah Pemasangan 10 CCTV

Baca: Tim Gabungan TNI Polri Cek Ketersediaan Surat Suara, Diharapkan Ada CCTV di Gudang Penyimpanan

“Kami optimistis target ini akan tercapai, sebab secara sistem kami telah bertransformasi dari manual ke digital,” katanya.

Selain itu, sarana dan prasarana pendukung serta SDM juga kian mumpuni. Sementara itu, mengenai target area Ampenan yang paling tinggi, disebabkan karena melihat hasil dari 2018 dan potensi di daerah Lombok.

“Dari historisnya, pertumbuhan area Ampenan bagus,” imbuhnya. Salah satu potensinya adalah pada produk Arrum Haji.

“Komposisi produk muslim di NTB juga tinggi jika dibandingkan Bali dan NTT,” jelasnya.

Berdasarkan datanya, penduduk muslim di NTB mencapai 4.756.722 orang atau proporsinya 80,23 persen.

Sedangkan di Bali hanya 10,11 persen atau 599.015 orang, dan di NTT hanya 9,66 persen atau 572.795 orang.

“Sehingga NTB memiliki potensi paling tinggi dalam pengembangan produk Arrum Haji ini, karena populasi penduduk muslimnya terbesar di wilayah Bali-Nusra,” jelas Mariawan, sapaan akrabnya.

Walau demikian, NTT memiliki masa tunggu kuota haji tercepat yakni 17 tahun, diikuti Bali 20 tahun, dan NTB 26 tahun.

Baca: Angkasa Pura Airports Raih 3 Penghargaan dalam Anugerah BUMN 2019  

Baca: Baku Tembak dengan Rampok, Menegangkan Saat Anggota Polisi Tarik Seorang Ibu yang Nyaris Ditembak

Selain itu, potensi remitance di NTB juga cukup tinggi. Potensi ini adalah potensi pengiriman uang dalam bentuk valuta asing, baik penerimaan maupun pengeluaran dari tenaga kerja yang bekerja di luar negeri.

Ia menjelaskan,  tenaga kerja yang bekerja di luar negeri memiliki komposisi terbesar dari NTB yaitu 17.351 atau 88 persen.

Besarnya angka tenaga kerja yang bekerja di luar negeri ini, membuat NTB memiliki potensi besar untuk dikembangkan produk remitance-nya.

Sementara Bali hanya 1.664, dan NTT hanya 691 pekerja. Potensi produk Amanah juga besar di NTB.

Mariawan menjelaskan, pegawai negeri sipil merupakan profil nasabah yang besar dalam pengembangan produk Amanah.

“Dilihat dari komposisi PNS di Bali dan Nusra, memang NTT memiliki persentase terbesar yaitu 40,31 persen. Kemudian diikuti Bali 29,86 persen, dan NTB sebesar 29,83 persen,” sebutnya.

Walau demikian, NTB juga menjadi wilayah potensial untuk Amanah ini. Sementara itu, dilihat dari komposisi perbandingan masyarakat yang belum memiliki kendaraan.

Baca: Tak Disangka, Bocah SMP asal Indonesia Ini Viral Setelah Bobol Situs NASA Amerika, Begini Ungkapnya

Baca: 6 Bulan Sekali Panen Beras Hitam 6,5 Ton, Petani di Tabanan Kebingungan Cari Pasar

Provinsi NTT memiliki potensi besar, di mana 4.742.756 dari 5.371.519 atau 88,29 persen masyarakatnya belum memiliki kendaraan.

Selain itu, kredit kendaraan bermotor dari cabang syariah juga cukup potensial di NTB.

Cabang pegadaian syariah, kata dia, paling banyak ada di NTB.

“Masih banyak juga sebenarnya di NTB yang belum punya kendaraan, jadi potensinya besar, ini juga memengaruhi pemberian target yang besar,” katanya. 

Selain Amanah, NTB juga menjadi wilayah untuk pengembangan potensi produk pegadaian lainnya yaitu Kreasi.

“Besarnya jenis usaha pertanian di NTB hingga 33,05 persen, menunjang dalam pengembangan produk Kreasi khususnya Kreasi Flexy,” katanya.

Selain itu, mempertimbangkan potensi wilayah, dan demografi sehingga diputuskan NTB diberikan target paling besar.

Sementara itu untuk Bali, kredit cepat aman (KCA) atau gadai emas masih menyumbang pendapatan paling tinggi sehingga menjadi core bisnis di Pulau Dewata.

Baca: Gara-gara Unggah Status Meresahkan di FB soal Gunung Agung, Pria Ini Dibina Polisi & Meminta Maaf

Baca: Pemkab Badung Tanam 10 Bibit Mangrove Langka, Pelepasliaran Elang, Kura-kura, Biawak & Bulus

Jumlah emas titipan nasabah di Bali mencapai 113.972,1303 gram dari 77.453 nasabah.

Disusul NTB dengan jumlah emas titipan nasabah sebesar 72.865,8049 gram dari 97.343 nasabah.

NTT dengan jumlah emas titipan 81.225 nasabah mencapai beratnya 37.073,8577 gram. 

“Kalau saya bilang, dominasi KCA di Bali itu sampai 90 persen,” sebutnya.

Made Mariawan juga menyebutkan, bahwa penduduk yang memiliki kendaraan bermotor di Bali adalah tertinggi yakni 3.730.633 atau 86,9 persen dari jumlah kendaraan bermotor di Bali Nusra.

Sementara jenis usaha yang yang mendominasi di Bali adalah usaha perdagangan hingga 23,27 persen. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved