Simpang Ring Banjar

Jaga Toleransi Lewat Majenukan, Digelar Usai Kerajaan Karangasem Ekspansi ke Lombok

Tradisi majenukan (melayat) di Desa Adat Ujung Hyang menjadi warisan leluhur yang mencerminkan keberagaman dan toleransi antara umat Hindu dan Islam

Jaga Toleransi Lewat Majenukan, Digelar Usai Kerajaan Karangasem Ekspansi ke Lombok
Tribun Bali/Saiful Rohim
Desa Adat Ujung Hyang, Kecamatan Karangasem. Tradisi majenukan (melayat) di Desa Adat Ujung Hyang, Kecamatan Karangasem menjadi warisan leluhur yang mencerminkan keberagaman dan toleransi antara umat Hindu dan Islam di Ujung Hyan 

Desa Adat Ujung Hyang 3 tahun lalu membentuk satgas keamanan bernama Jagabaya.

Jaga berarti menjaga dan baya artinya marabahaya.

Baca: Arrow Archery Club Juara Umum Wali Kota Cup X 2019 Cabor Panahan

Baca: Zaman Serba Digital, Ubah Gambar dari Media Manual ke Digital

Jagabaya menjaga desa dari marabahaya apapun.

Gusti Bagus Suteja menjelaskan, anggota Jagabaya berasal dari Umat Hindu dan Muslim di Ujung Hyang.

Biasanya Jagabaya ditugaskan saat pengamanan hari raya besar seperti Hari Nyepi, Galungan, Idul Fitri, Kuningaan, dan hari raya lain.

"Sebenarnya saling menjaga saat hari raya besar sudah ada dari dulu. Wadahnya dibentuk sekitar 3 tahun lalu. Sampai hari ini masih aktif," tambah Gusti Bagus Suteja.

Pecalang dan Jagabaya berperan menjaga keamanan serta kenyamanan.

Gusti Bagus Suteja mengimbau warga Ujung Hyang, baik Hindu maupun Islam untuk menjaga dan mempertahankan warisan leluhur.

Jangan sampai hubungan, kebersamaan, dan rasa toleransi sirna akibat ulah pemikiran orang luar. (*)

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved