13 Anak Berkebutuhan Khusus Ikuti UN 2019, Wayan Rapiyanti: Soal Bahasa Indonesia Sulitkan Siswa

pelaksanaan UN Tingkat SMA/SMK 2019 di SLB Negeri 2 Denpasar masih gunakan kertas jawaban.

13 Anak Berkebutuhan Khusus Ikuti UN 2019, Wayan Rapiyanti: Soal Bahasa Indonesia Sulitkan Siswa
TRIBUN BALI/NOVIANA WINDRI
Suasana pelaksanaan UN hari kedua di SLB Negeri 2 Denpasar, Sidakarnya, Denpasar, Bali, Selasa (2/4/2019). 

13 Siswa Berkebutuhan Khusus Ikuti UN 2019, Wayan Rapiyanti Sebut Soal Bahasa Indonesia Sulitkan Siswa SLB

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sebanyak 13 siswa tuna rungu dan tuna wicara ikuti UN SLB tingkat SMA/SMK 2019 hari kedua mata pelajaran Matematika di SLB Negeri 2 Denpasar, Sidakarya, Denpasar, Bali, Selasa (2/4/2019).

UN SMA/SMK di SLB Negeri 2 Denpasar dilaksanakan dengan menggunakan kertas ujian.

Kepala Sekolah SLB Negeri 2 Denpasar, Ni Wayan Rapiyanti menuturkan, pelaksanaan UN Tingkat SMA/SMK 2019 di SLB Negeri 2 Denpasar masih gunakan kertas jawaban.

Selain itu, pihaknya menambahkan adanya imbauan untuk melaksanakan UN berbasis komputer di SLB.

Namun, ada ketidaksiapan pihak sekolah maupun siswa jika UN SLB dilaksanakan berbasis komputer.

Baca: Pengakuan Istri Lahirkan Bayi Kembar, Suami Kaget yang Satu Bukan Darah Dagingnya

Baca: FOTO! Curhatan Siswa Berkebutuhan Khusus Ikut UN, Banyak Soal Bertele-tele, hingga Bahas Cita-cita

Baca: Cerita Poliandri Tinggal Satu Atap di Tibet, Leluasa Bicara Seks, Begini Kode untuk Urusan Ranjang

Baca: Cinta dalam Jejak Poliandri Komang Ayu Wanita Asal Banyuatis Berujung Hukuman

"Pelaksanaan untuk tahun ini SLB masih menggunakan kertas jawaban, cuma kita masih bingung."

"Sebenarnya sudah disarankan untuk ujian ini memakai komputer. Sementara, kita di SLB untuk pakai komputer belum siap."

"Yang pertama karena fasilitas belum memadai di sini. Kedua, kami masih terhalang saat menjelaskan kepada anak-anak karena mereka sulit menangkap penjelasan kami,"

"Mereka membaca soal tertulis di kertas saja membutuhkan waktu cukup lama. Karena anak-anak kita tuna rungu dan tuna wicara, mereka kekurangan pendengaran, otomatis baca soal memerlukan waktu. Kalau memakai komputer kan ada durasi waktu kan, jadi dari mereka juga belum ada kesiapan," tuturnya saat ditemui Tribun-Bali.com, Selasa (2/4/2019).

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa soal UN khususnya mata pelajatan Bahasa Indonesia dirasa masih menyulitkan siswa berkebutuhan khusus karena soal terlalu panjang dan kalimat yang bertele-tele.

Sehingga, para siswa berkebutuhan khusus masih kekurangan waktu untuk menyelesaikan soal UN.

"Sebenarnya sering dan selalu saya usulkan kepada dinas jika ada rapat itu untuk soal UN SLB khususnya Bahasa Indonesia lebih disederhanakan. Soal-soal UN Bahasa Indonesia itu kan panjang-panjang dan bertele-tele, sedangkan anak-anak kami ya kemampuan menyimak itu kurang. Jadi ya biar lebih diperhatikan lagi untuk UN SLB," tambahnya.

Soal UN SLB tingkat SMA/SMK tahun 2019 berlangsung selama 3 hari yakni tanggal 1-3 April 2019.

Dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia pada hari pertama, Matematika pada hari kedua dan IPA pada hari ketiga. (*)

Penulis: Noviana Windri
Editor: Rizki Laelani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved