Parta Sebut Wajar Turis Dikenai Kontribusi, Sebagian Bisa Dialokasikan Untuk Desa Adat  

Nyoman Parta lebih tertarik jika Bali segera bisa menerapkan kontribusi wisatawan sehingga sebagian dananya bisa dialokasikan pada desa adat

Parta Sebut Wajar Turis Dikenai Kontribusi, Sebagian Bisa Dialokasikan Untuk Desa Adat   
Tribun Bali/Wema Satyadinata
Ketua Komisi IV DPRD Bali, Nyoman Parta. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Perjuangan Gubernur Bali agar desa adat mendapat alokasi anggaran dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) ke Presiden dan Menteri Keuangan mendapat tanggapan dari Ketua Komisi IV DPRD Bali, Nyoman Parta.

Parta yang juga sebagai Ketua Pansus Raperda tentang desa adat, berharap rencana tersebut dapat segera terealisasi.

Namun dirinya lebih tertarik jika Bali segera bisa menerapkan kontribusi wisatawan sehingga sebagian dananya bisa dialokasikan pada desa adat.

“Ya kita berharap berhasil lah, desa adat diberi dana dari Jakarta. Karena itu akan dibenturkan dengan kode desa, kok saya lebih tertarik kalau kita berjuang terkait kontribusi wisatawan ya. Nanti kalau dapat, uangnya bisa dibawa ke desa adat,” kata Parta saat ditemui di Kantor DPRD Bali, Selasa (2/4/2019).

Menurutnya, hal itu lebih masuk akal karena kontribusi wisatawan tidak menagih uang pada Pemerintah Pusat, namun Pemerintah Daerah mengenakan biaya pada turis yang menikmati budaya dan alam Bali.

Baca: Laga Uji Coba Tingkatkan Kekompakan & Asah Kemampuan Skuat Bali United

Baca: Reino Barack dan Syahrini Akan Cepat Punya Anak Cowok? Ini Ramalan Rara

“Wajarkah dia kena? Wajar. Layakkah dia kena? Layak,” tegas politisi asal Desa Guwang, Gianyar ini.

Ia menjelaskan orang Bali membiayai proses atraksi budaya dan segala kebudayaannya dengan menghabiskan biaya yang besar.

Sambungnya, para wisatawan itu tidak mengetahui bahwa satu gong kebyar bisa tampil dalam PKB biaya yang diperlukan sekitar Rp 1 miliar, di samping juga sekaa tersebut mengurusnya berbulan-bulan agar bisa tampil maksimal di atas Panggung.

“Turis tiba-tiba datang ketika PKB, jeprat-jepret, dia jual fotonya, dia nikmati fotonya, dia nikmati keindahannya,” imbuhnya.

Wisatawan bisa menikmati laut yang indah, bisa melihat berbagai bentuk tanaman, bisa melihat sawah yang berundag-undag dan segala macam keindahan Bali lainnya, sehingga wajar jika turis itu dikenai biaya kontribusi karena telah menikmati segala keindahan itu.

Halaman
12
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved