Gubernur Koster Siapkan Konsep Penataan Kawasan Suci Besakih

Gubernur Koster akan melakukan upaya pembenahan terhadap pengelolaan kawasan suci Besakih

Gubernur Koster Siapkan Konsep Penataan Kawasan Suci Besakih
Tribun Bali/Made Dwi Suputra
PURA BESAKIH - Sejumlah umat Hindu sembahyang di Pura Agung Besakih, belum lama ini. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Akibat kewenangan penataan kawasan suci Besakih yang dibagi-bagi ke setiap kabupaten dan kota, menyebabkan pembangunan menjadi kurang merata.

Dalam pembangunan pelinggih misalnya, banyak ditemukan standardisasi yang berbeda-beda karena tergantung dari nilai finansial yang dimiliki oleh kabupaten dan kota itu sendiri.

Gubernur Bali Wayan Koster menilai hal ini menimbulkan pemandangan yang kurang pantas, sehingga ke depan dibutuhkan standar yang sama dalam proses pembangunan di kawasan suci Besakih.

Oleh karena itu pihaknya mengaku akan melakukan upaya pembenahan terhadap pengelolaan kawasan suci Besakih yang pendanaannya tetap berada di masing-masing kabupaten dan kota, namun konsepnya harus diupayakan dalam satu kesatuan.

“Ini akan kami lakukan di Besakih berkaitan dengan parahyangan, misalnya ada pelinggih yang sudah rusak harus dibenahi. Kalau kabupaten tidak sanggup (maka) provinsi yang akan membenahi,” kata Gubernur Koster saat memberi kuliah umum di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Jumat (5/4/2019).

Selain itu, jika terdapat pelinggih dari leluhur masyarakat Bali yang belum ada di sana maka ke depan juga akan dibangun.

Baca: Manchester United Akan Lepas Enam Pemain Sekaligus, Siapa Saja Mereka?

Baca: 6 Hal Sepele yang Bikin Gadget Kamu jadi Cepat Rusak, Hati-hati Sebelum Menyesal

Misalnya, kata Gubernur Koster, leluhur masyarakat Bali yang belum ada pelinggihnya yakni Dalem Waturenggong.

Pelinggih ini akan dibangun pada tahun 2020, sedangkan saat ini masih dibuatkan konsep desainnya.

“Jadi 2020 akan dibangun pelinggih Dalem Waturenggong. Itu raja yang terkenal di Bali semestinya ada palingggihnya di sana,” kata dia.

Pembangunan pelinggih Dalem Waturenggong itu akan dibangun sesuai dengan arsitektur zaman dahulu pada saat raja itu memimpin.

Begitu juga pelinggih pasemetonan yang lain juga akan ikut dibangun, dan Gubernur Koster meminta masyarakat untuk melapor jika ada leluhurnya ingin dibangunkan pelinggih di Pura Besakih.

Hal itu upaya membangun Pura Besakih sebagai cerminan satu kesatuan komponen masyarakat Bali yang nantinya juga tidak akan ada sebuah pendekatan feodal di pura tersebut.

“Dia harus sama untuk masyarakat Bali,” kata Gubernur asal Desa Sembiran, Tejakula, Buleleng ini.

Tak hanya soal pelinggih, tata upakara di Pura Besakih juga akan diatur sesuai dengan pakemnya, sesuai warisan yang tercantum dalam lontar-lontar.

Baca: 3,8 Ton Daging Celeng Ilegal dari Palembang Dimusnahkan Balai Karantina Gilimanuk

Baca: Pemerintah Segera Lelang Surat Utang Negara Rp 30 Triliun

“Jadi harus betul-betul ditata sesuai dengan yang diwariskan oleh leluhur kita,” kata dia.

Sementara untuk bagian jaba (luar pura) juga akan diatur dengan baik mulai dari tempat parkir, restoran dan lain sebagainya, karena saat ini dinilai sudah semakin tidak teratur.

Terlebih pembangunan nantinya juga akan ada gedung 'bioskop' untuk memutar video tentang sejarah Pura Besakih.

“Siapa yang mendirikan, tahun berapa, siapa saja untuk apa dia, bagaimana dia upakaranya di sana, setiap apa. Semua akan didokumentasikan. Diputar di situ di gedung kayak bioskop. Akan dibangun di sekitar bawahnya itu,” jelasnya.

Bioskop ini dibangun untuk para wisatawan yang datang ke Pura Besakih sehingga bisa mengetahui keberadaan pura tersebut.

Setelah keluar dari 'bioskop' itu, jika para wisatawan ingin mengunjungi Pura Besakih maka akan dibuatkan tempat untuk memandang sehingga para wisatawan tidak masuk ke areal pura.

“Jadi nanti orang dari mana-mana masuk ke tempat sembahyang padahal dia lagi enggak boleh misalnya. Jadi yang masuk ke sana yang boleh hanya yang tujuannya sembahyang. Di luar itu tidak boleh masuk,” tegasnya.

“Semua pura akan kami tata seperti itu, di Bali agar kesakralan pura terjaga. Tempat yang disucikan agar benar-benar suci,” imbuhnya.

Hal ini Gubernur Koster lakukan setelah mencermati berbagai peristiwa wisatawan memanjat pelinggih di banyak kawasan pura di Bali.

Penataan kawasan suci Besakih ini juga akan diikuti dengan adanya penataan infrastruktur yang memadai dari berbagai arah menuju kawasan tersebut. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved