Kuasa Hukum Sebut Sudikerta Alami Gangguan di Syaraf, Besok Akan Ajukan Penangguhan Penahanan  

Upaya tersebut dicetuskan oleh tim penasehat hukum setelah menerima informasi bahwa Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Bali

Kuasa Hukum Sebut Sudikerta Alami Gangguan di Syaraf, Besok Akan Ajukan Penangguhan Penahanan  
Kolase
Mantan Wakil Gubernur Bali, I Ketut Sudikerta saat masih mengikuti Pilgub Bali dan kemarin, Jumat (5/4/2019) sore saat sudah menjadi tahanan Polda Bali 

"Sebenarnya, beliau sudah mengalami sakit itu sejak lama. Cuma kan sebelum ditahan, beliau rutin minum obat. Dan dengan terjadinya perubahan tempat, mungkin karena duduk semalaman di semen (lantai) sehingga dingin, kemudian belum lagi ada penyakit lain. Secara khusus, sakitnya beliau disebutkan ada di bagian pundak, ada gangguan syaraf,” ungkap Sumardika .

"Sebab kalau sampai terjadi lambat penanganannya, itu dapat menyebabkan kelumpuhan. Nah kita semua tidak mau hal ini terjadi kan? Alasan ini yang akan kami ajukan, di samping banyak pihak yang akan siap sebagai penjamin," sebut Sumardika yang didampingi rekan penasehat hukum lainnya.

Ia juga beralasan, apabila nanti Sudikerta diizinkan di luar melalui penangguhan penahanan, hal itu akan membuat kliennya dapat berpikir dengan tenang.

"Kalau di luar kan dia bisa berpikir tenang dan kemudian kami selaku penasehat hukum akan selalu memberikan pendapat dalam rangka upaya penyelesaian kasus ini. Kan itu yang penting kan? Sehingga tidak ada pihak yang dikorbankan," imbuh Sumardika menambahkan.

Upayakan Musyawarah

Ia mengungkapkan, kini timnya sebagai penasehat hukum mengecek sejauh mana kasus itu melibatkan Sudikerta dan memastikan sejauh apa penyelesaiannya. 

"Artinya, supaya tidak ada kerugian dari pihak pelapor maka kita akan selesaikan itu. Kita harus membangun komunikasi dengan saksi pelapor," ucap Sumardika.

Ditanya lebih spesifik apakah kliennya akan memberikan ganti rugi, Sumardika menjawab bahwa dalam komunikasi dengan pelapor nanti, pihaknya akan menyamakan persepsi. 

"Kita menyamakan persepsi. Pelapor dan klien kami masing-masing maunya apa, kan gitu. Sehingga kita dapat bertemu di satu titik dalam rangka upaya-upaya perdamaian. Nah sekarang saya tanya, adakah yang mau duit itu hilang? Gak ada kan? Ya sudah kalau gitu jika permasalahan itu dapat ditempuh dengan musyawarah dan kekeluargaan, buat apa menempuh hal-hal yang panjang kan? Ya gak?" ujar Sumardika melempar pertanyaan.

Disinggung apakah sudah bertemu dengan pihak Maspion, dia menuturkan, sejauh ini belum ada pertemuan. Alasannya, karena baru 5 April 2019 pihaknya ditunjuk sebagai penasehat hukum.

Halaman
1234
Penulis: Busrah Ardans
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved