Kuasa Hukum Sebut Sudikerta Alami Gangguan di Syaraf, Besok Akan Ajukan Penangguhan Penahanan  

Upaya tersebut dicetuskan oleh tim penasehat hukum setelah menerima informasi bahwa Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Bali

Kuasa Hukum Sebut Sudikerta Alami Gangguan di Syaraf, Besok Akan Ajukan Penangguhan Penahanan  
Kolase
Mantan Wakil Gubernur Bali, I Ketut Sudikerta saat masih mengikuti Pilgub Bali dan kemarin, Jumat (5/4/2019) sore saat sudah menjadi tahanan Polda Bali 

  

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Tim penasehat hukum mantan Wakil Gubernur (Wagub) Bali, I Ketut Sudikerta, berencana untuk kembali melayangkan pengajuan surat penangguhan penahanan terhadap kliennya pada Senin (8/4) nanti.

Upaya tersebut dicetuskan oleh tim penasehat hukum setelah menerima informasi bahwa Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Bali dikabarkan tidak menyetujui penangguhan penahanan yang diajukan sebelumnya.

Tim penasehat hukum yang akan mengajukan surat penangguhan penahanan itu merupakan tim baru dari Kantor Advokat Bali Privacy, yang dipimpin advokat I Wayan Sumardika.

Sumardika mengatakan, mereka ditunjuk oleh Sudikerta pada Jumat (5/4) lalu untuk menggantikan tim penasehat hukum sebelumnya.

"Kami advokat I Wayan Sumardika dan Gede Astawa dan beberapa rekan dari Kantor Advokat Bali Privacy, terhitung sejak Jumat sore 5 April 2019 telah ditunjuk oleh pak Sudikerta untuk bertindak selaku penasehat hukum beliau,” kata Sumardika saat ditemui Tribun Bali di Rumah Pemenangan Sudikerta di Renon, Denpasar, Sabtu (6/4) sore.

"Kami mendengar dari media tadi pagi bahwa permohonan penangguhan penahanan yang dilakukan oleh rekan kami terdahulu, katanya tidak disetujui oleh Ditreskrimsus Polda Bali. Atas berita itu, kalau mungkin penyidik pada Sabtu (6/4) tadi ada di kantor, maka kami bermaksud berkoordinasi. Tetapi karena hari Sabtu libur, kami sepakat bahwa hari Senin (8/4) kami akan sowan (berkunjung) kepada penyidik untuk melihat sejauh mana perkara ini, dan mengajukan kembali penangguhan penahanan," jelas Sumardika.

Tim Penasehat Hukum Sudikerta yang baru, Advokat I Wayan Sumardika dan Gede Astawa saat dimintai keterangan oleh tribun-bali.com di rumah pemenangan Sudikerta, Sabtu (6/4/2019). 
Tim Penasehat Hukum Sudikerta yang baru, Advokat I Wayan Sumardika dan Gede Astawa saat dimintai keterangan oleh tribun-bali.com di rumah pemenangan Sudikerta, Sabtu (6/4/2019).  (Tribun Bali/Busrah Syam Ardan)

Seperti diketahui, Sudikerta yang ditangkap di Bandara Ngurah Rai pada Kamis (4/4) lalu kini tengah menjalani penahanan di Rumah Tahanan (Rutan) Markas Polda Bali.

Sumardika menambahkan, alasan utama untuk kembali mengajukan surat penangguhan ialah karena kondisi kliennya yang disebutnya mengalami sakit pada bagian pundak.

Diungkapkan Sumardika, jika sakit pada bagian pundak itu tidak segera ditangani, kondisi itu akan bisa berakibat kelumpuhan.

"Sebenarnya, beliau sudah mengalami sakit itu sejak lama. Cuma kan sebelum ditahan, beliau rutin minum obat. Dan dengan terjadinya perubahan tempat, mungkin karena duduk semalaman di semen (lantai) sehingga dingin, kemudian belum lagi ada penyakit lain. Secara khusus, sakitnya beliau disebutkan ada di bagian pundak, ada gangguan syaraf,” ungkap Sumardika .

"Sebab kalau sampai terjadi lambat penanganannya, itu dapat menyebabkan kelumpuhan. Nah kita semua tidak mau hal ini terjadi kan? Alasan ini yang akan kami ajukan, di samping banyak pihak yang akan siap sebagai penjamin," sebut Sumardika yang didampingi rekan penasehat hukum lainnya.

Ia juga beralasan, apabila nanti Sudikerta diizinkan di luar melalui penangguhan penahanan, hal itu akan membuat kliennya dapat berpikir dengan tenang.

"Kalau di luar kan dia bisa berpikir tenang dan kemudian kami selaku penasehat hukum akan selalu memberikan pendapat dalam rangka upaya penyelesaian kasus ini. Kan itu yang penting kan? Sehingga tidak ada pihak yang dikorbankan," imbuh Sumardika menambahkan.

Upayakan Musyawarah

Ia mengungkapkan, kini timnya sebagai penasehat hukum mengecek sejauh mana kasus itu melibatkan Sudikerta dan memastikan sejauh apa penyelesaiannya. 

"Artinya, supaya tidak ada kerugian dari pihak pelapor maka kita akan selesaikan itu. Kita harus membangun komunikasi dengan saksi pelapor," ucap Sumardika.

Ditanya lebih spesifik apakah kliennya akan memberikan ganti rugi, Sumardika menjawab bahwa dalam komunikasi dengan pelapor nanti, pihaknya akan menyamakan persepsi. 

"Kita menyamakan persepsi. Pelapor dan klien kami masing-masing maunya apa, kan gitu. Sehingga kita dapat bertemu di satu titik dalam rangka upaya-upaya perdamaian. Nah sekarang saya tanya, adakah yang mau duit itu hilang? Gak ada kan? Ya sudah kalau gitu jika permasalahan itu dapat ditempuh dengan musyawarah dan kekeluargaan, buat apa menempuh hal-hal yang panjang kan? Ya gak?" ujar Sumardika melempar pertanyaan.

Disinggung apakah sudah bertemu dengan pihak Maspion, dia menuturkan, sejauh ini belum ada pertemuan. Alasannya, karena baru 5 April 2019 pihaknya ditunjuk sebagai penasehat hukum.

“Kami kan harus tahu dulu sejauh mana yang kemarin-kemarin itu dilakukan. Kami belum tahu. Nanti jika ada perkembangan yang harus kami sampaikan, maka akan kami sampaikan,” katanya.

Pengajuan penangguhan penahanan diupayakan lagi, karena tim penasehat hukum menilai mungkin saja ada hal-hal yang belum terpenuhi, misalnya dari sisi administratif. Ditambah lagi, kata Sumardika, kesehatan kliennya terganggu.

“Ada riwayat penyakit yang beliau miliki," ucap Sumardika.

Dia mengisahkan, pasca satu hari ditahan, penyakit Sudikerta kambuh.

"Iya, kambuh lagi sakitnya. Mudah-mudahan ini menjadi pertimbangan ya. Yang pasti atas saran dan pendapat kami selaku penasehat hukum, beliau pasti akan kooperatif. Dan kami akan berikan pendapat yang sebenar-benarnya gitu, ya. Bagaimana posisi kasus ini, bagaimana solusi terbaik,” kata Sumardika.  

Dia mengharapkan, tidak ada pihak yang dikorbankan. Artinya, kalau ada pelapor, tentu ada korban. Tim penasehat hukum akan lakukan komunikasi intensif baik dengan para korban maupun dengan penyidik dalam rangka semua klir.

“Mudah-mudahan pintu terbuka," ucapnya.

Bantah ke Singapura

Mengenai praperadilan, Sumardika menambahkan upaya itu tidak akan ditempuh.Pihaknya akan lebih memfokuskan pada upaya-upaya penyelesaian kasus.

Sumardika juga ingin meluruskan bahwa kliennya sebelumnya hendak menyelesaikan persoalannya dengan berangkat ke Jakarta.

Namun, dia menyayangkan sekaligus mencurigai ada pihak-pihak yang memanfaatkan peristiwa tersebut dengan membuat kabar bahwa Sudikerta akan melarikan diri ke Singapura.

Sumardika menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar.

"Begini, beliau dalam rangka ke Jakarta. Itu untuk mengupayakan penyelesaian kasus ini. Mungkin ada pihak yang mau membeli aset, dengan tujuan untuk menyelesaikan kasus di Polda ini. Tidak ada maksud lain. Tidak mungkin lah yang namanya Ketut Sudikerta, sekarang lagi nyaleg DPR RI dan beliau sangat kuat elektabilitasnya. Jadi ndak mungkin meninggalkan Bali hanya gara-gara itu. Jadi cuma miskomunikasi saja," tegasnya.

Ia menaruh curiga ada pihak-pihak yang menyebarkan isu tidak sedap tersebut.

"Saya curiga juga ada pihak-pihak lain yang memanfaatkan kesempatan itu. Kan ini zamannya politik. Kami curiga itu. Makanya, harus kita luruskan sekarang. Dimanfaatkan, dengan melempar isu Pak Sudikerta akan melarikan diri, kabur mau ke Singapura. Kami bilang ada pihak-pihak yang memanfaatkan. Jadi isu mengenai klien kami akan melarikan diri ke Singapura, itu tidak benar," jelas Sumardika.

Justru, ia menegaskan, Sudikerta hendak ke Jakarta karena ada janji untuk membahas sesuatu yang bisa menyelesaikan persoalan di Bali.

Saat ditanya apakah penahanan Sudikerta akan menggerus elektabilitasnya, Sumardika meyakini hal itu tidak akan terjadi. Ia menambahkan, dukungan terhadap Sudikerta masih solid.

"Sepanjang yang kami amati, masih solid dukungan terhadap dia di bawah. Karena penggalangan dukungan dari partai, tim relawan, itu terstruktur dengan baik. Beliau punya basis massa, kantong-kantong suara, secara riil gitu. Jadi tidak terpengaruh," jawabnya dengan yakin.(*)

Penulis: Busrah Ardans
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved