Breaking News:

Kekerasan Seksual juga Terjadi di Bali, Apa Saja yang Termasuk dalam Kekerasan Seksual?

Kekerasan seksual masih menjadi isu penting yang menjadi perhatian khusus di masyarakat. Bagaimana seseorang bisa dikatakan sebagai korban?

Tribun Bali/Noviana Windri Rahmawati
dr. A A Sri Wahyuni saat memberikan edukasi tentang kekerasan seksual dalam acara Women March #BeraniBersuara melawan kekerasan di Rumah Sanur, Jalan Danau Poso, Sanur, Bali, Sabtu (6/4/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Bali/Noviana Windri Rahmawati

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kekerasan seksual masih menjadi isu penting yang menjadi perhatian khusus di masyarakat.

Bagaimana seseorang bisa dikatakan sebagai korban dari kekerasan seksual?

Salah seorang dokter spesialis kejiwaan dan seorang psikiater Bali, dr. Anak Agung Sri Wahyuni, Sp. Kj., menjelaskan seseorang bisa dikatakan sebagai korban kekerasan seksual mulai bayi hingga berusia lanjut.

Namun, ketika seseorang tersebut sudah di atas 17 tahun atau sudah dewasa maka bisa dikatakan sebagai korban kekerasan seksual jika tidak ada persertujuan dari salah satu pihak.

"Bentuk kekerasan seksual kan banyak ya. Ada pelecehan, perkosaan, pemaksaan pernikahan, pemaksaan aborsi dan lain sebagainya. Kalau dia tidak menyetujui dan tidak pernah setuju itu dimasukkan bentuk kekerasan seksual,"

Baca: Hunian Bedah Rumahnya Masih Hancur, Nengah Surata Sekeluraga Terpaksa Numpang Tidur

Baca: Kini Jadi Sorotan Dunia Inilah Sosok Dan Harta Sultan Hassanal Bolkiah Yang Ternyata Raja Terkaya

"Apalagi yang di bawah 18 tahun itu boleh orang lain yang melapor. Kalau orang dewasa ia sendiri yang wajib melapor ketika ia mengalami kekerasa seksual. Terutama kekerasan seksual yang saat ini masih dianggap bahwa hanya pemerkosaan itu saja yang dianggap kekerasan seksual," ucap dr. A A Sri Wahyuni, Sp., Kj saat dikonfirmasi Tribun Bali, Senin (8/4/2019).

Melansir data dari hasil temuan Komnas Perempuan pada tahun 1998 hingga 2013, Komnas Perempuan mencatat terdapat 15 jenis bentuk kekerasan seksual.

15 bentuk kekerasan seksual yakni perkosaan, intimidasi seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan, pelecehan seksual, eksploitasi seksual, perdagangan perempuan untuk tujuan seksual.

prostitusi paksa, perbudakan seksual, pemaksaan perkawinan termasuk cerai gantung, pemaksaan kehamilan, pemaksaan aborsi, pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi.

Penyiksaan seksual, penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual, praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan, kontrol seksual termasuk lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama.

Baca: Bermaksud Ingin Jadi Model Gadis 15 Tahun Ini Kirim Foto Syurnya, Tak Disangka Malah Berakhir Begini

Baca: Daya Tampung SD Negeri di Denpasar Tahun 2019 Hanya Mencapai 10 Ribu Siswa

"Kekerasan perempuan yang terjadi di Bali itu banyak. Datanya ada di P2TP2A Kota Denpasar dan Provinsi Bali serta LBH APIK yang lebih banyak menangani kasus ini. Biasanya saya dikirim data secara pribadi bukan kedinasan kalau memang memerlukan terapi. Yang lebih berat dari para korban kekerasan seksual itu misalnya kaksus yang dulu sama seorang guru di Mengwi sampai hamil 7 bulan pun tidak ada kesepakatan untuk menikahi, dinikahipun tidak, dicarikan terapi untuk jalan keluar apakah dilahirkan atau keluarga mengadopsi yang akhirnya banjar yang ribut yang mengharuskan bayar ratusan juta,"

Baca: Tepis Gunakan Ilmu Hipnotis, Kapolresta Denpasar Sebut 2 Tahanan Kabur Akibat Kelalaian Petugas Jaga

"Contoh lain kasus yang di Gianyar juga. Ayahnya sudah dipenjara, anaknya hamil, dan harus bayar juga. Hal semacam itulah yang akhirnya membuat perempuan dilema dan takut untuk bersuara. Dan akhirnya bersuara ketika muncul kehamilan atau ketika mengalami gangguan jiwa berat. Dan tetap ini menjadi fenomena gunung es karena aib bagi perempuan untuk melaporkan," jelasnya.

Pihaknya juga menuturkan hal-hal yang tidak boleh kita lakukan kepada para korban kekerasan seksual yakni tidak boleh bertanya secara berulang-ulang tentang kekerasan yang dialami dan tidak menceritakan kepada siapapun atau tetap menjaga rahasia. (*)

Penulis: Noviana Windri
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved