Penyuluh Bahasa Bali Sampai Patungan untuk Lestarikan Naskah Lontar

Kurangnnya anggaran untuk pembelian sarana konservasi seperti minyak sereh dan alkohol membuat para penyuluh ini harus bergotong royong atau urunan

Penyuluh Bahasa Bali Sampai Patungan untuk Lestarikan Naskah Lontar
Istimewa/Penyuluh Bahasa Bali
Tenaga Penyuluh Bahasa Bali melakukan perawatan lontar di Griya Taman Belayu, Kecamatan Marga, Tabanan, Jumat (5/4/2019). 

Selain itu juga banyak masyarakat yang tidak paham atau tahu cara perawatan lontar baik dalam pemeliharaan dan penyimpanan lontar sehingga lontar yang dimiliki banyak dalam kondisi rusak.

Untuk biaya perawatan lontar menghabis biaya sekitar Rp 500 ribu. Itu digunakan untuk membeli minyak sereh, alkohol dan bahan lainnya seperti kemiri.

Setiap kali kegiatan konservasi lontar dilakukan satu hari penuh, terlebih lagi jika jumlah lontarnya banyak. Di Griya Taman Belayu ini ada 69 cakep lontar yang usiaya mencapai ratusan tahun.

Untuk di Tabanan secara keseluruhan, kata dia, sudah ada 1.000 lebih cakep lontar yang sudah dikonservasi. Ia mengatakan, melakukan konservasi lontar merupakan salah satu cara untuk menyelamatkan kondisi fisik lontar dari kerusakan.

Gede Saka menyebutkan, ada beberapa tahap untuk konservasi lontar seperti membersihkan lontar dari noda atau kotoran.

Kemudian menulis ulang atau menerangkan tulisan lontar yang guram dan tidak jelas dengan buah kemir atau buah nagasari yang terlah dibakar.

Berikutnya, untuk tetap menjaga lontar dari kepunahan maka dilakukan dengan digitalisasi lontar. Artinya setiap lembar naskah lontar difoto kemudian disimpan dalam bentuk digital.

"Itu salah satu tugas kami sebagai penyuluh bahasa Bali selain mengedukasi dan mengidentifikasi jenis-jenis lontar yang ada di masyarakat juga pelestarian lontar. Untuk sementara yang kami banyak temui adalah tutur atau cerita rakyat," ungkapnya.

Saka mengungkapkan, sejauh ini belum pernah menemukan lontar dengan kondisi rusak berat. Namun sudah ada beberapa lontar yang tulisan sudah tidak jelas sehingga perlu dilakukan penulisan ulang kembali.

“Belum ada kami temui kondisi lontar yang rusak, kebanyakan kondisinya yang tulisannya kurang jelas atau terpapar debu. Itu saja sehingga jika ada tulisan kami terangkan lagi,” tandasnya. (*)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved