Singgung Kasus Sudikerta, Kapolda Bali: Tidak Ada Toleransi Terhadap Mafia Tanah!

Singgung Kasus Sudikerta, Kapolda Bali: Tidak Ada Toleransi Terhadap Mafia Tanah!

Singgung Kasus Sudikerta, Kapolda Bali: Tidak Ada Toleransi Terhadap Mafia Tanah!
Tribun Bali
Singgung Kasus Sudikerta, Kapolda Bali: Tidak Ada Toleransi Terhadap Mafia Tanah! 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Rumah sakit Trijata Bhayangkara Polda Bali tampak ramai saat dikunjungi tribun-bali.com, Selasa (9/4/2019), sekitar pukul 14.00 WITA siang tadi.

Pasien dari berbagai elemen masyarakat terlihat menunggu dan beberapa sedang menjalani pemeriksaan.

Tua-muda bercampur jadi satu.

Baca: Haji Bambang Bom Bali Didatangi FBI, Diminta Ungkap Fakta Bom Bali di Guantanamo Kuba

Di rumah sakit ini, Minggu (7/4/2019), lalu Mantan Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta dirawat karena mengalami kondisi kurang baik, setelah menjalani penahanan di Rutan Polda Bali, Kamis, (4/4/2019), lalu.

Kondisi kesehatan Sudikerta pun terkonfirmasi membaik dan terkontrol.

Di rumah sakit itu pula, terdapat ruangan pasien khusus tahanan yang berada di sebelah timur pintu masuk RS Trijata.

Baca: Bule Belanda Kumpul Kebo hingga Lakukan Hal Tak Biasa di Buleleng, Warga Sepakat Ambil Langkah ini

Posisinya menghadap ke timur dilengkapi pelayanan kesehatan standar dan pelayanan sesuai.

Hanya saja perbedaannya, terletak pada adanya jeruji besi, yang memang merupakan ruangan khusus tahanan.

Di sanalah, kata AKBP dr I G A A Diah Yamini, Karumkit RS Trijata Bhayangkara, dirawat banyak tahanan yang dikenakan tindakan tegas dan terukur oleh aparat kepolisian.

Baca: Gadis 16 Tahun Tak Sadar Pacarnya Merekam Saat Berhubungan, Setelah 3 Kali Berhubungan ini Terjadi

Maupun berbagai tersangka lainnya seperti kasus narkotik yang tersangkanya menelan narkotik beberapa waktu lalu.

Sudikerta pun dikatakan sempat menjalani pemeriksaan dan perawatan di ruangan bernomor 112, sesaat dirinya mengalami kondisi yang kurang fit yang didahului dengan mual lalu muntah-muntah.

"Awalnya kita observasi dan memang ada riwayat penyakit sebelumnya, bisa ditanyakan ke Bapak Sudikerta apa penyakitnya. Dari keluhan-keluhan itu kita tindak lanjuti. Masuk ke RS Trijata Bhayangkara Minggu kemarin dan keluar RS sekitar pukul 07.00 WITA pagi, Senin (8/4/2019).

"Pada hari Minggu, (7/4/2019), lalu, dilakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan secara lengkap apakah memiliki riwayat penyakit sebelumnya. Nah setelah itu, kita pastikan tidak bermasalah lagi kemudian dikembalikan ke tahanan," kata dia kepada tribun-bali.com, saat ditemui di RS Bhayangkara.

Ia menjelaskan, observasi yang dilakukan ialah pemeriksaan laboratorium, jantung, ronsen.

Pasien sendiri, ujarnya, dibawa ke rumah sakit sekitar jam 12.00 WITA, minggu.

"Sorenya kita observasi dulu, kita lihat kita lakukan juga sampai malam. Dan pagi harinya kondisinya sudah membaik.

Siang hari masuk, sore kita observasi, sampai malam, paginya dia udah bisa kembali ke tahanan," ujar Diah.

Saat dikonfirmasi mengenai tensi dan gula darah Sudikerta naik, dirinya pun membenarkan hal tersebut.

Disinggung apakah Sudikerta dalam kondisi tertekan, secara logika dijelaskannya hal itu bisa terjadi.

"Biasanya memang dalam menghadapi kasus kan kondisi psikis itu mempengaruhi fisik seseorang. Secara logika siapapun, yang dalam kondisi tertentu, kalau kita ada istilahnya psikosomatis ya, yang dalam kondisi tertentu yang sehat saja bisa jadi sakit, apalagi yang memiliki riwayat sakit sebelumnya.

"Sewaktu masuk RS, tensinya ada peningkatan lah tidak bisa kita sebutkan berapa, tapi memang harus dikontrol obat-obatan. Agar tidak berlanjut, kita antisipasi sejak awal," jelasnya rinci.

"Secara medis dia harus terkontrol, setiap tahanan yang masuk, merupakan prosedur kita untuk melakukan pemeriksaan. Di ruang tahanan pun kita lakukan pemeriksaan, kemudian bagi tahanan yang harus minum obat kita rutinkan minum obat," sambung dia.

Lebih jauh, dikatakan tidak bisa membeberkan yang merupakan privacy medis dari pasien.

Ditanya apakah ada melakukan medical check up lagi, dirinya belum mengetahui.

"Belum, jadi kita cek, karena setiap hari kita evaluasi juga ya, jika memang butuh perawatan dan observasi maka dilakukan, tapi kalau pasien terkontrol, maka tetap menjalani penahanan di Rutan. Saat ini kondisinya sudah terkontrol kok, udah baik. Tapi tetap dipastikan minum obat. Sejauh ini bagus kondisinya" jawabnya, lugas.

Dia menyebutkan, di RS tersebut, pihaknya tentu memiliki ruang tahanannya.

Sebagaimana ruangan yang sebagaimana biasanya.

Pelayanan dan prosedur di RS Bhayangkara khususnya di ruang tahanan pasien menurutnya sama saja.

"Pasien diberikan perlengkapan, tempat tidur, selimut, standar cakep kok. Tetap standarisasi pelayanan sama cuma kalau tahanan kan ada penjagaan," lanjutnya.

Disinggung mengenai gejala-gejala awal saat Sudikerta dirujuk ke rumah sakit, dia menyebut pasien sempat mengalami muntah-muntah.

"Sewaktu mau diperiksa, awalnya pasien sempat muntah-muntah, ya itu biasa karena kondisi psikis tadi. Makanya saya bilang namanya psikosomatis begitu.

"Nah saat sudah baik ini, kita ngasih obat juga tapi dia punya obat juga kok. Mungkin kemarin dia gak sempat bawa obat jadi tak terkontrol. Apalagi makanan di RS dan di tahanan kan standar," terang dia.

Sementara itu, saat dikonfirmasi perihal kesehatan Sudikerta, Penasehat Hukum Sudikerta I Wayan Sumardika juga membenarkan kondisi kliennya kini dalam keadaan sehat.

"Hari ini bapak udah sehat, bapak udah sehat. Saat ini persiapan kami, kami lakukan rapat-rapat internal terkait materi penyelesaian kasus ini. Seperti membahas sumber-sumber dana yang dapat menyelesaikan persoalan ini. Kan katanya Markus ada kerugian jadi coba kita persiapkan dulu," kata Sumardika dihubungi via telepon, sore tadi.

Namun dirinya menegaskan belum berkomunikasi dengan saksi pelapor.

"Tapi kami koordinasi dengan penyidik. Memang upaya perdamaian benar merupakan murni antara pelapor dan terlapor tetapi karena persoalan ini sudah menjadi penegakkan hukum, tentu kami berkoordinasi dengan penyidik.

"Meski kita tidak dapat berkomunikasi dengan pihak pelapor, kan faktanya kami tahu bahwa niat pelapor selanjutnya seperti ini, keinginan seperti ini, artinya kami tahu itu karena berkoordinasi dengan penyidik, kan begitu. Dan penyidik pasti tahu apa maksud dari korban atau saksi pelapor," jelasnya, menerangkan.

Besok, Rabu (10/4/2019), pihaknya ingin meminta salinan berita acara pemeriksaan di penyidik untuk dipelajari.

Soal pemeriksaan lanjutan terhadap Sudikerta dirinya pun belum mendapat info kapan akan ada pemeriksaan.

"Kemudian kita belum tahu juga perkembangan penangguhan walaupun ada kabar-kabar tapi kami ingin mengetahui dari penyidik. Formilnya kan begitu, sampai kemarin pada saat menyampaikan permohonannya kedua, penyidik mengatakan permohonan sebelumnya belum dijawab sama Pak Dir katanya," tambahnya.

Terpisah, Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reinhard Golose, mengatakan dugaan kasus yang melibatkan Mantan Wagub Bali Ketut Sudikerta merupakan salah satu commander wish Kapolda Bali.

"Saya sudah katakan bahwa salah satu commander wish dari Kapolda Bali adalah pemberantasan mafia tanah, dan saya juga memberantas apa yang disebut sebagai transnasional organize crime.

"Saya rasa itu sudah ditangani oleh pihak kami dengan baik dan kita penegak hukum hanya menjalankan tugas seperti biasa dan membuat rasa kepastian hukum di Bali," jelas dia.

"Dulunya sebelum jadi Kapolda banyak kasus tanah yang tidak terselesaikan, maka sekarang kita coba selesaikan, apalagi yang berkaitan dengan tanah adat itu tidak ada toleransi," tegasnya. (*)

Penulis: Busrah Ardans
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved