Serba Serbi

350 Peserta Ngelungah Masal di Pantai Mertasari Sanur, Kembalikan ke 'Asal' Agar Tak Jadi Bhuta Cuil

Jika yang meninggal adalah anak-anak atau bayi yang berusia di bawah 42 hari atau melewati 42 hari namun belum tanggal gigi, maka bayi tersebut

350 Peserta Ngelungah Masal di Pantai Mertasari Sanur, Kembalikan ke 'Asal' Agar Tak Jadi Bhuta Cuil
Tribun Bali/Putu Supartika
Pelaksanaan upacara Ngelungah di Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar, Sabtu (13/4/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Jika yang meninggal adalah anak-anak atau bayi yang berusia di bawah 42 hari atau melewati 42 hari namun belum tanggal gigi, maka bayi tersebut harus dikubur saat itu juga.

Dan dalam waktu tertentu harus dilakukan prosesi lanjutan yakni ngelungah atau ngasturi. 

Agar roh anak-anak tersebut tak jadi Bhuta Cuil.

"Ngelungah ini juga ditujukan kepada kematian bayi yang terjadi pada masa kehamilan, dan juga keguguran atau warak keruron," kata Koordinator Pinandita Sanggraha Nusantara Denpasar Selatan, Jro Mangku I Made Sudiartha, Sabtu (13/4/2019).

Sebanyak 350 peserta ikut dalam acara ngelungah yang digelar oleh Koordinator Pinandita Sanggraha Nusantara Denpasar Selatan di Pantai Mertasari, Sanur, Denpasar.

Salah satunya yang ikut yakni Jro Sekar, asal Pedungan, Denpasar Selatan.

Ia ikut mendampingi sepupunya yang mengalami keguguran empat tahun silam.

 Saat itu, janin dalam kandungan sepupunya berusia dua bulan dan tiba-tiba keguguran.

Sejak saat itu, sang sepupu kerap kepikiran sang janin dan tak jarang memimpikannya. 

Untuk menenangkannya, sang sepupu ikut upacara tersebut.

Menurutnya, janin tersebut harus diupacarai untuk menyempurnakannya. 

"Masih kotor, jadinya gimana caranya biar bersih ikut sembahyang. Biar plong dan tenang pikirannya," katanya usai melarung abu. 

Sudiartha mengatakan, prosesinya dimulai dengan acara memanggil roh yang akan diupacarai. 

"Setelah masuk rohnya langsung diberi upacara dengan menggunakan sesajen," katanya.

 Dilanjutkan dengan melakukan pelukatan dan dilakukan prelina atau mengembalikan sang atma sebelum dilakukan pembakaran sekah.

"Prelina artinya mengembalikan sang atma dengan puja mantra sulinggih dan tirta pralina. Selanjutnya baru prosesi pembakaran habis pembakaran, abu dimasukkan ke dalam kelapa muda (klungah nyuh gading)," katanya. 

Klungah yang berisi abu sekah ini selanjutnya dihias sesuai seni masing-masing.

Setelah dihias selanjutnya dilakukan prosesi nganyud (ngelarung) seah dalam kkelapa ke laut.

"Tujuannya membersihkan dan mengembalikan raga si anak ke Panca Maha Butha atau lima zat yang membentuk badan manusia. Utamanya darah ke darah air, ke anah lima unsur alam,' katanya.

Ia menambahkan, "sementara roh dikembalikan ke kemulan atau rong tiga nanti akan phunarbawa kembali."

"Kalau kepercayaan kalau tidak diupacarai roh tidak akan tenang, badan masih kasar, makanya perlu mengembalikan atmanya kembali ke asal," katanya.

Ia menyebutkan ada tiga jenis untuk pelaksanaan warak keruron untuk bayi keguguran, gumpalan darah. 

Ngelangkir untuk yang sudah kepus dan ngelungah yang belum tanggal gigi. 

"Ini dari seluruh masyarakat dari Mengwi, Tabanan, dan kebanyakan dari Denpasar Selatan. Ini acara pertama yang digelar Pinandata Sanggraha Nusantara Kecamatan Denpasar Selatan," katanya.

Ia menuturkan banyak yang mengikuti acara ini karena ingat dengan bayinya yang sudah meninggal, sakit, dicari diminta untuk melakukan pembersihan.

"Ada juga yang tidak punya anak karena mengalami keguguran, dan bahkan ada yang bermimpi tentang anaknya yang belum dibersihkan," katanya.

Menurutnya hari ini, Sabtu (Saniscara) Pon Ugu, adalah dewasa atau hari baik untuk melaksanakan upacara Manusa Yadnya yakni Ngelungah.

"Ini hari baik untuk Agama Hindu setelah upacara di Besakih tidak boleh ngaben dan kemarin nyineb dan sekarang bisa dilaksanakan," katanya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved