Jero Sekar Lega Arwah Anak Sepupunya Dipralina, 350 Warga Ikuti Ngelungah Massal di Pantai Mertasari

Jero Sekar memandang khidmat ratusan klungah berisi abu sekah dan berbagai haturan sesajen yang dilarung ke segara (laut) di Pantai Mertasari, Sanur

Jero Sekar Lega Arwah Anak Sepupunya Dipralina, 350 Warga Ikuti Ngelungah Massal di Pantai Mertasari
Tribun Bali/Rizal Fanany
Sejumlah umat Hindu mengikuti Prosesi Ngelungah di Pantai Mertasari, Denpasar, Sabtu (13/4/2019). Prosesi Ngelungah merupakan rangkaian upacara Ngaben dan Mamukur yang diperuntukkan janin atau bayi yang sudah meninggal. 

Tahapan berlanjut ke prosesi inti yakni ‘pralina’ atau mengembalikan atma (arwah) ke tempat asalnya kemudian dilakukan pembakaran (ngaben) sekah sebagai simbol jiwa dari bayi yang meninggal.

Lalu, abu sekah ini dimasukkan ke dalam klungah masing-masing untuk kemudian dilarung dengan tujuan membersihkan dan mengembalikan raga si anak ke Panca Maha Butha atau lima unsur dasar yang membentuk badan manusia. 

“Jika (ngelungah) tidak dilakukan, atma bayi yang meninggal ini akan menjadi atma butha cuil dan dapat mengganggu keharmonisan hidup orang tuanya”, jelas Jero Mangku Made Sudiartha selaku Koordinator Upacara.

Adapun, kata dia, total sebanyak 350 peserta mengikuti upacara ini, baik warga Denpasar Selatan sendiri maupun dari luar daerah seperti Mengwi dan Tabanan.

Sebagian besar di antara mereka mengalami keguguran serta aborsi.

"Ini acara pertama yang digelar Pinandata Sanggraha Nusantara Kecamatan Denpasar Selatan," katanya.

Menurutnya, hari Sabtu (Saniscara) Pon Ugu adalah dewasa atau hari baik untuk melaksanakan upacara Manusa Yadnya yakni Ngelungah. 

"Ini hari baik untuk Agama Hindu setelah upacara di Besakih tidak boleh ngaben, dan kemarin nyineb dan sekarang bisa dilaksanakan," katanya.

Upakara secara massal, kata dia, menjadi solusi dalam menghemat biaya upakara yang terlalu tinggi jika digelar mandiri. 

''Untuk itu, kita adakan upakara ini secara kolektif atau memakai dana punia sebesar Rp 500 ribu per orang,'' terangnya.

Sesuai ajaran Hindu, bayi yang meninggal dengan usia di bawah 42 hari setelah dikubur mestinya dilanjut dengan prosesi ngelungah. (azm/sup)

Penulis: eurazmy
Editor: Ady Sucipto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved