Melarat di Pulau Surga

Mengaku Keluarga Berada di Biaung-Tabanan, Luh Ariani: Bilangnya Benci Sama Saya

Sama seperti seorang wanita pada umumnya, meski fisiknya tak bisa digerakkan dengan baik, Luh Ariani tetap memasak dan meracik makanannya sendiri.

Mengaku Keluarga Berada di Biaung-Tabanan, Luh Ariani: Bilangnya Benci Sama Saya
Tribun Bali/Noviana Windri
Luh Ariani, wanita yang tinggal dalam sebuah rumah batu di kaki Gunung Batu, Jalan Pendakian Gunung Batur, Kintamani, Bangli, Bali, Sabtu (13/4/2019). 

Luh Ariani mengaku saat itu ia bersekolah hingga kelas 6 SD saat ia masih ditinggal di Tabanan bersama orang tuanya.

Orang tuanya memaksanya melajutkan sekolah di Denpasar namun ia tolak.

"Saya dulu punya saudara angkat. Saudara angkat saya tidak pernah pisah dengan saya. Saya juga sedih kalau berpisah dengan saudara saya jika harus sekolah di Denpasar. Makanya saya tidak mau meneruskan sekolah di Denpasar," ungkapnya yang saat itu tengah memotong daging ayam dan kentang untuk dimasak.

Luh Ariani menceritakan sakit polio yang diderita berawal dari ia jatuh dari sepeda motor saat hendak berangkat sekolah.

Kecelakaan yang Luh Ariani alami menyebabkan tulang kakinya retak parah dan menggunakan gypsum selama hampir 6 bulan.

"Dulu juga sempat dirawat di RS Sanglah. Sampai menghabiskan uang banyak. Sekitar 4 juta 900 ribu. Kalau datang sakitnya rasanya nyut-nyut gitu. Hingga akhirnya bapak saya memanggil kakek saya yang tinggal di Kintamani untuk menjemput saya," ungkapnya.

Luh Ariani menceritakan kakek dan neneknya saat itu bekerja sebagai pencari dan penjual taru.

Namun, saat ini kakek dan neneknya sudah meninggal.

Luh Ariani juga menyebut orang tuanya berasal dari Biaung, Tabanan, Bali.

Namun, saat Tribun Bali menanyakan pernah atau tidaknya ditengok oleh keluarganya yang di Tabanan, Luh Ariani hanya menggeleng.

Halaman
1234
Penulis: Noviana Windri
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved