Liputyan Khusus

Gagah dari Luar 'Jerawatan' di Dalam, Pasar Badung Ada Wacana untuk Dipoles Lebih Cantik

Ia terbayang-bayang masalah yang menimpa beberapa temannya, yang jatuh karena salah masuk eskalator.

Gagah dari Luar 'Jerawatan' di Dalam, Pasar Badung Ada Wacana untuk Dipoles Lebih Cantik
Tribun Bali/Rizal Fanany
Suasana Pasar Badung di Jalan Gajahmada, Denpasar, pada Sabtu (9/3/2019). Sejumlah pengunjung mengeluhkan belum adanya taman di luar yang membuat suasana panas. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Selesai berjualan di Pasar Badung, Denpasar, Desak Merta memilih turun lewat tangga biasa di samping gedung pasar.

Meski di pasar ini sudah dilengkapi eskalator dan lift untuk naik turun lantai, namun pedagang sayur itu mengaku belum terbiasa menggunakan eskalator.

Ia terbayang-bayang masalah yang menimpa beberapa temannya, yang jatuh karena salah masuk eskalator.

“Kalau ada barengan, baru saya berani. Kalau tidak ada teman, mending saya lewat tangga saja. Soalnya pernah ada yang jatuh. Yang seharusnya dia ke eskalator untuk naik, malah ke eskalator turun,” kata pedagang di lantai dua Pasar Badung ini, Kamis (11/4) sore.

Sejumlah pedagang di lantai III dan IV pasar ini juga masih mengeluh soal sepinya pengunjung.

Bagi mereka, Pasar Badung yang sekarang sudah sangat bagus, apalagi dilengkapi dengan fasilitas eskalator.

Namun, ternyata para pembeli, terutama yang tua-tua, masih enggan naik ke lantai atas lantaran takut naik lift atau eskalator.

“Ini sih sudah bagus, tapi di sini masih sepi. Kadang ada yang mau naik ke atas, trus begitu nyentuh saja eskalator sudah balik gak jadi naik. Takut, katanya,” kata salah-satu pedagang di lantai III yang punya 14 kios di Pasar Badung.

Para pedagang mulai menata tempat berjualan mereka di los dan kios yang ada di bangunan baru Pasar Badung, Denpasar, Sabtu (23/2/2019). Pasar yang terbakar hebat pada akhir februari 2016 itu akan mulai buka pada Minggu (24/2) pagi ini, dan pada 12 Maret nanti direncanakan bakal diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.
Para pedagang mulai menata tempat berjualan mereka di los dan kios yang ada di bangunan baru Pasar Badung, Denpasar, Sabtu (23/2/2019). Pasar yang terbakar hebat pada akhir februari 2016 itu akan mulai buka pada Minggu (24/2) pagi ini, dan pada 12 Maret nanti direncanakan bakal diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. (Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa)

Pasar Badung kini menjadi satu-satunya pasar tradisional yang berisi fasilitas lift dan eskalator.

Layaknya berkunjung ke sebuah mal, begitulah pasar ini didesain untuk memanjakan para pedagang dan pengunjung pasar.

Hingga kini sudah sebulan lebih pedagang menempati Pasar Badung yang baru selesai dibangun pada Desember 2018 silam itu.

Awalnya eskalator dan lift cuma difungsikan setengah hari.

Namun karena banyaknya permintaan dari para pedagang dan pengunjung, akhirnya eskalator difungsikan sampai pasar ini tutup.

“Awalnya kami uji coba saja itu. Makanya setengah hari. Nah karena banyak yang minta dan sekarang juga sudah kami kenakan iuran harian untuk bayar listriknya, ya kami fungsikan penuh,” kata Kepala Pasar Badung, I Gusti Made Estuasa, kepada Tribun Bali.

Meski pasar ini sempat mendapat pujian dari Presiden Joko Widodo sebagai satu-satunya pasar tradisional dengan arsitektur terbaik di Indonesia, namun bukan berarti pasar ini tanpa kekurangan.

Pihak pengelola pasar pun mengaku masih kurang puas dengan hasil finishing dari proyek Pasar Badung ini.

Itu antara lain berupa basement pasar yang kurang menjual, dan masih ada areal yang masih berupa beton kasar pada bagian lantainya.

Padahal, Pemkot Denpasar menginginkan Pasar Badung sebagai smart heritage market atau pasar tradisional yang berteknologi cerdas.

Dilihat dari kawasan parkir, Pasar Badung memang tampak megah dan baru. Namun ketika mendekat ke arah lobi pasar, misalnya, keramik di lantainya masih sederhana.

Pelapisan  Lantai I sampai lantai IV pasar baru ini ternyata cuma menggunakan cat epoksi.

Seluruh kawasan pasar ini juga belum memiliki smoking area, sehingga para perokok masih bebas merokok dan ada yang terlihat membuang puntung rokok mereka.

“Lha tidak ada tempat merokok, masak saya harus turun ke tempat parkir, ya capek. Seharusnya disediakan smoking area kalau memang tidak mengizinkan merokok di dalam pasar,” kata seorang pengunjung pasar kepada Tribun Bali, pekan lalu.

Sebelum diresmikan pada 22 Maret lalu oleh Jokowi, Tribun Bali sempat melihat ada satu titik di lantai IV pasar ini sudah mengelupas.

Bekas kelupasan itu kemudian `ditutup` dengan menempatkan areal bermain anak-anak di bagian itu, sehingga kelupasan tidak begitu jelas terlihat.

Sementara kondisi lantai I, II, dan III masih bagus. Hanya saja, pengelola Pasar Badung pesimistis lantai dengan cat epoksi bisa bertahan lama.

Apalagi jumlah pengunjung di Pasar Badung tidak sedikit, “Kelemahan cat epoksi ini, kalau ada yang mengelupas sedikit, itu tidak bisa ditambal di titik itu saja. Sama seperti mobil dia,” kata Gusti Made Estuasa kepada Tribun Bali.

Selain tidak adanya smoking area dan lantai yang menggunakan cat epoksi, tampaknya proses finishing Pasar Badung belum maksimal.

Sebab, tangga-tangga di bagian samping pasar ini masih berupa beton kasar dan terlihat sisa-sisa ceceran semen yang sudah mengering.

Bahkan, ada pegangan tangga di samping pasar yang sudah mulai rusak saat dipegang.

Tak hanya itu, di areal penjual daging sapi dan ikan di pasar ini, lantai belum dipoles sama sekali alias masih beton kasar.

Hal ini dianggap menyulitkan pedagang apabila ada ceceran darah dan daging yang tumpah.

“Kami juga mengeluhkan tempat jualan dagingnya. Masih beton. Itu tentu membuat kesan kurang bagus. Padahal, dari luar, pasar ini kan terlihat sangat megah,” kata Gusti Estuasa.

Masih Tahap Pemeliharaan

Untungnya pihak PT. Nindya Karya (NK) sebagai kontraktor yang menggarap proyek itu masih mau memperbaiki apabila ada bagian-bagian proyek yang rusak atau perlu mendapatkan penanganan segera.

Sebab, saat ini proyek ini masih dalam tahap pemeliharaan.

“Dari pihak NK ada yang standby di sini. Jadi sudah diperbaiki langsung kalau ada yang rusak,” kata Estuasa.

Estuasa mengatakan, setelah Pasar Badung resmi diserahterimakan ke Pemkot Denpasar tepatnya ke Perusahaan Daerah (PD) Pasar Kota Denpasar, kemungkinan lantai di kawasan pedagang daging tersebut akan dipermak lagi.

Pun tidak menutup kemungkinan seluruh lantai di pasar ini akan dirombak ulang.

“Ya nanti kita ikuti bagaimana hasil keputusannya. Soalnya sekarang baru sebatas wacana saja ada rencana begitu,” ungkap Estuasa.

Dia mengaku, hingga akhir Kamis (11/4) lalu Pasar Badung belum secara resmi menjadi tanggungjawab Pemkot Denpasar atau PD Pasar Kota Denpasar.

“Sampai sekarang belum serah terima. Jadi kami belum bisa mengubah fisik apapun. Yang bisa kami lakukan hanya membersihkan yang kotor-kotor,” katanya.

Salah-satu pedagang daging sapi mengeluhkan kurangnya tempat cuci perabotan untuk para pedagang daging.

Di lantai I memang sudah terdapat satu ruangan untuk tempat cuci perabota.

Namun, jumlah kerannya cuma tiga unit sehingga pedagang harus antre.

“Jumlah pedagangnya banyak, kerannya sedikit, cuma tiga. Kan jadinya lambat kalau kita punya buruh kan molor jam kerja mereka,” kata salah satu pedagang daging tersebut kepada Tribun Bali.(win)

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved