Pemilu 2019

'Seniman Gila' Aboetd Gelar Pameran Lukisan di TPS 08-12 Banjar Batanancak Desa Mas

Seniman lukis yang dikenal eksentrik, Aboetd tidak pernah kehabisan akal dalam memperkenalkan seni lukisnya pada masyarakat.

'Seniman Gila' Aboetd Gelar Pameran Lukisan di TPS 08-12 Banjar Batanancak Desa Mas
TRIBUN BALI/ I WAYAN ERI GUNARTA
Seniman lukis, Aboetd saat menggelar pameran lukisan di TPS 08-12 Banjar Batanancak, Desa Mas, Ubud, Rabu (17/4) 

'Seniman Gila' Aboetd Gelar Pameran Lukisan di TPS 08-12 Banjar Batanancak Desa Mas

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Seniman lukis yang dikenal eksentrik, Aboetd tidak pernah kehabisan akal dalam memperkenalkan seni lukisnya pada masyarakat.

Kali ini, ia memanfaatkan momen pencoblosan di TPS 08-12 Banjar Batanancak, Desa Mas, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar untuk menggelar pameran lukisan.

Pantauan Tribun-Bali.com di TPS yang berlokasi di SD Negeri 6 Mas, Rabu (17/4/2019), Aboetd tampak menggantung sejumlah lukisan tanda tangannya di pepohonan sekolah.

Baca: Ini Perolehan Suara di Tempat Pencoblosan Ketua Timses Prabowo Sandi di Bali

Baca: Mantan Wagub Bali I Ketut Sudikerta Tanpa Ekspresi Saat Mencoblos di Rutan Polda Bali

Baca: VIDEO! SEDANG BERLANGSUNG Live Streaming Quick Count Pilpres 2019 di Kompas TV, Metro TV dan tvOne

Baca: BREAKING NEWS! Live Quick Count Litbang Kompas Pukul 16.00 WITA, Bisa Diakses Pakai Smartphone

Lantaran jumlah warga yang melihat relatif sedikit, ia lantas mengikat lukisannya pada tongkat eksis (tongsis) lalu berkeliling ke kerumunan masyarakat yang tengah menunggu giliran mencoblos.

Pria asal Banjar Batanancak tersebut mengatakan, dirinya sudah melakukan pameran sejak pukul 09.00 Wita.

Hal ini dilakukan dengan tujuan memberikan hiburan pada masyarakat yang hadir di TPS, serta agar masyarakat lebih mengenal lukisannya.

"Pameran dari jam 9 pagi. Pameran berupa lukisan tanda tangan, lukisan biasa dan sketsa juga ada. Tujuannya untuk menyemarakan pemilu, memberikan hiburan di TPS biar orang tidak bosan," ujarnya di TPS yang memiliki 1.500 orang pemilih itu.

"Saya dikira gila, tapi saya memang seniman gila. Tapi saya hanya gila dalam berkesenian. Kegilaan saya ini menurut saya berguna. Kalau gila kan tak kenal rasa malu. Rasa malu adalah pengganggu kebebasan. Dari kebebasan inilah saya terus memiliki ide," ujarnya. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved