Dewan Tegaskan Pembangunan Danau Buatan Harus Tahun 2019, Persoalan Meluapnya Air Danau Batur

Pasalnya tak hanya lahan pertanian saja, luapan air Danau Batur juga berdampak pada terendamnya ruas jalan raya hingga pemukiman penduduk

Dewan Tegaskan Pembangunan Danau Buatan Harus Tahun 2019, Persoalan Meluapnya Air Danau Batur
Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Meluap - Kondisi luapan air Danau Batur yang merendam lahan pertanian warga dan jalan di depan Pura Danu Kuning Desa Pakraman Buahan. Jumat (19/4/2019). 

Pria asal Desa Suter, Kintamani itu menampik jika ada anggapan seolah dewan tidak memikirkan persoalan yang terjadi.

Meluap - Kondisi luapan air Danau Batur yang merendam lahan pertanian warga dan jalan di depan Pura Danu Kuning Desa Pakraman Buahan. Jumat (19/4)
Meluap - Kondisi luapan air Danau Batur yang merendam lahan pertanian warga dan jalan di depan Pura Danu Kuning Desa Pakraman Buahan, Jumat (19/4/2019). (Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury)

Basma mengklaim pihaknya sudah memperjuangkan terkait penarikan air danau, bahkan sejak pertama kali duduk di kursi dewan pada tahun 2004 silam.

Kata dia, saat itu perjuangannya belum untuk mengantisipasi peluapan air Danau Batur, namun lebih kepada irigasi, serta pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakat.

"Pada saat itu luapan air danau belum separah saat ini. Desakan kami lebih kepada pemenuhan air bagi masyarakat di atas. Mulai dari kebutuhan sehari-hari, lahan pertanian, ternak dan sebagainya. Sebab pada saat itu juga kondisi air danau cenderung masih layak konsumsi," ujarnya.

Baca: UPDATE Hasil Real Count KPU, Ini Perolehan Suara Capres Jokowi dan Prabowo hingga Pukul 21.00 WITA

Baca: Dinas Perkimta Buleleng Siapkan Anggaran Rp 1,3 Miliar Bangun IPAL Komunal

Alasan mengenai tak kunjung terealisasinya apa yang dia perjuangkan, lantaran terdapat banyak kajian yang diperlukan.

Mulai dari mekanisme penarikan air, izin penggunaan lahan hutan untuk saluran pipa, hingga anggaran yang dibutuhkan.

Terlebih saat ini, kondisi air danau juga diketahui kurang layak dikonsumsi.

"Harapan kami mau tidak mau rencana danau buatan tersebut harus dikerjakan tahun ini, mengingat sudah ada anggarannya sebesar Rp 15 miliar. Terlebih, hal ini berdampak besar dari segala sisi. Mulai dari mengatasi luapan Danau Batur. Dari sisi ekonomi, lahan pertanian yang semula terendam bisa kembali lagi meluas untuk dimanfaatkan. Apalagi tanaman holtikultura sangat menjanjikan bagi petani di sekitaran Danau Batur," ujarnya.

Meluap - Kondisi luapan air Danau Batur yang merendam lahan pertanian warga dan jalan di depan Pura Danu Kuning Desa Pakraman Buahan. Jumat (19/4/2019).
Meluap - Kondisi luapan air Danau Batur yang merendam lahan pertanian warga dan jalan di depan Pura Danu Kuning Desa Pakraman Buahan. Jumat (19/4/2019). (Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury)

Selain itu, lanjut Basma, dengan penarikan air danau ke atas, tentu bisa dimanfaatkan bagi desa-desa yang membutuhkan air, namun terlebih dahulu melalui treatment sehingga air tersebut benar-benar layak konsumsi.

Bilamana anggarannya belum mencukupi, Basma menyebut untuk treatment air danau bisa dianggarkan kembali pada tahun berikutnya.

"Paling tidak, dengan penarikan air ke atas bisa terlebih dahulu dimanfaatkan untuk lahan pertanian. Untuk itu, penekanan kami mengingat saat ini sudah bulan April, tidak ada lagi 'lagu lama' alasan yang menunda realisasi danau buatan," tegasnya.

Baca: Idap Penyakit Langka, Seorang Bayi di AS DIlahirkan Tanpa Kulit

Baca: 384 Peserta Absen UTBK Hingga Sesi 4, Kini Unud Luncurkan Pusat Informasi Lokasi Ujian

Di pihak lain, Sekretaris PUPRKim, I Made Soma mengatakan rencana pembuatan danau buatan sudah oke, utamanya dari segi lokasi pembangunan, mengingat sudah ada pembebasan lahan.

Walau demikian, pihaknya kini masih perlu melakukan kajian ulang mengenai Detail Engineering Desing (DED), lantaran pihak perencana sebelumnya telah mengundurkan diri.

"Perencanaan yang perlu dimatangkan adalah pembuatan penampungan sementara saat penarikan ai,r sebab jarak dari Danau Batur ke danau buatan perlu melewati tebing dengan ketinggian sekitar 100 meter lebih. Rencana sebelumnya, ada tiga bak penampungan (reservoir) inilah yang tengah kami revisi, apakah perlu tiga bak penampungan atau cukup dua bak saja sebelum nantinya dialirkan ke danau buatan di atas," jelasnya.

Soma mengatakan, setidaknya perlu waktu selama satu bulan untuk pembahasan DED mengenai reservoir ini.

Walau demikian, pihaknya tidak bisa memastikan kapan bisa direalisasikan pembangunan danau buatan ini.

"Selain mengkaji ulang DED, juga harus mengkaji RAB-nya apakah cukup atau tidak. Kalau memang cukup, tentu bisa langsung dilaksanakan karena seluruh lahan untuk pembangunan sudah dibebaskan," tandasnya.(*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved