Pasar Manggis Belum Menghasilkan PAD Sejak Mulai Beroperasi

Dari 16 pasar yang dikelola Disperindag, satu pasar tradisional belum bisa memberi retribusi ke daerah, yaitu Pasar Manggis

Pasar Manggis Belum Menghasilkan PAD Sejak Mulai Beroperasi
Tribun Bali/Saiful Rohim
Suasana di depan Pasar Seni Manggis, Desa/Kecamatan Manggis tampak sepi, Kamis (18/4/2019). Tak ada pedagang berjualan maupun pembeli yang beraktivitas di Pasar Manggis. 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Dari 16 pasar yang dikelola Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), satu pasar tradisional belum bisa memberi retribusi ke daerah.

Yakni Pasar Manggis, Desa Manggis, Kecamatan Manggis, Karangasem.

Kepala Disperindag Karangasem, Gusti Ngurah Suarta menjelaskan, Pasar Manggis belum menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) sejak berdiri.

Penyebabnya, pedagang tidak berani jualan serta pembeli sepi karena berdekatan dengan setra (kuburan).

"Pasar Manggis belum bisa berikan retribusi. Nggak ada pedagang dan pembeli yang datang ke sana. Sampai sekarang pasar dibiarkan mangkrak," kata Gusti Ngurah Suarta, Kamis (18/4/2019) kemarin.

Baca: 5 Fakta Kasus Kanibalisme di Kediri, Wanita Ini Makan Habis Jarinya Sendiri Hingga Luka Membusuk

Baca: Tabanan Anggarkan Dana Perawatan Rp 142 Juta Meski Jarang Dipakai, 15 Alat Berat Dijemur & Karatan

Pejabat asal Klungkung itu mengaku telah berupaya membangkitkan Pasar Manggis tapi tetap gagal.

Pedagang dan pembeli tetap enggan untuk berkunjung.

Upaya yang dilakukan yakni mendatangkan hiburan, sayangnya pedagang tetap enggan berjualan.

"Dulu pernah retribusi digratiskan, tapi pedagang tetap enggan menjajakan barang dagangan," imbuhnya.

Untuk diketahui, tujuan awal dibangunnya Pasar Manggis untuk menopang Pelabuhan Dermaga Cruise, Desa Tanah Ampo, Kecamatan Manggis.

Sementara itu, pasar yang telah menyumbangkan PAD di Karangasem sekitar 15 pasar.

Baca: Siapkan Mental Anak PAUD Hadapi Gempa, Disdikpora Akan Gelar Simulasi Siaga Bencana

Baca: Teco Ingin Bali United Menang di Stadion Dipta, Perempat Final Piala Indonesia 2018 Jumpa Persija

Seperti Pasar Amlapura Timur, Amlapura Barat, Subagan, Bebandem, Kalanganyar, Telaga, Rubaya, Tukad Ling, Tukad Belatung, Pasar Peertanian serta Hewan.

Dari 15 pasar penghasil PAD, penyumbang terbanyak yakni Pasar Amlapura Timur, Subagan, dan Pasar Rubaya.

"Pasar Amlapura Timur menyumbang Rp 1 miliar lebih setiap tahun. Pasar lainnya masih belum maksimal," akui Gusti Suarta.

Pihaknya berjanji akan terus menggenjot PAD dari sektor pasar.

Tahun 2019 ini, kata Suarta, target PAD dari pasar sekitar Rp 3.4 miliar.

Disperindag optimis target tersebut bisa terealisasi.

"Tahun 2018 target Rp 3.3 milliar, dan terealisasi," kata Suarta, sapaannya.(*)

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved