Serba Serbi

Ratusan Pemedek Lahir Tumpek Wayang Ikuti Bayuh Sapuh Leger Massal di Pasraman Agung Indraprasta

Pebayuhan sapuh leger ini digelar khusus bagi mereka yang lahir di hari 'keramat' yakni selama wuku wayang

Ratusan Pemedek Lahir Tumpek Wayang Ikuti Bayuh Sapuh Leger Massal di Pasraman Agung Indraprasta
Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Bertepatan dengan hari Tumpek Wayang, ratusan pemedek mengikuti ritual Pebayuhan Sapuh Leger massal di Pesraman Agung Indra Prasta Banjar Pejengaji, Tegallalang, Gianyar, Sabtu (20/4/2019). 

"Setelah mendapat panglukatan dari ide nak lingsir, pemedek kemudian mengikuti proses mejaya-jaya, sembahyang, nunas tirta, dan natab bersama sesuai kelahiran," jelas Jro Sumardika.

Baca: Menengok Sejarah Soenda Ketjil di Museum Ini

Baca: 3,5 Jam Labfor Olah TKP Insiden Kebakaran di Bandara Ngurah Rai, Begini Hasilnya  

Tumpek Wayang merupakan salah satu hari raya suci Umat Hindu yang dirayakan setiap enam bulan sekali.

Menurut lontar Sapuh Leger dan Dewa Kala, Batara Siwa memberi izin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak/orang yang dilahirkan pada wuku Wayang.

Atas dasar isi lontar tersebut, apabila diantara anaknya ada yang dilahirkan pada wuku Wayang, demi keselamatan anaknya itu, mereka harus mengupacarainya dengan didahului mementaskan Wayang Sapuh Leger berikut aparatusnya dipersiapkan jauh lebih banyak (berat) dari perlengkapan sesajen jenis wayang lainnya.

Tumpek Wayang adalah manifestasinya Dewa Iswara yang berfungsi untuk menerangi kegelapan, memberikan pencerahan kehidupan di dunia serta mampu membangkitkan daya seni dan keindahan.

Tumpek Wayang merupakan cerminan dimana dunia yang diliputi dengan kegelapan, manusia oleh kebodohan, keangkuhan, keangkara murkaan, oleh sebab itu Siwa pun mengutus Sangyang Samirana turun ke dunia untuk memberikan kekuatan kepada manusia yang nantinya sebagai mediator di dalam menjalankan aktivitasnya.

Selain pebayuhan massal sapuh leger, Pasraman Agung Indraprasta Banjar Pejengaji, Tegallalang juga sempat melaksanalan upacara metatah massal, bayuh massal, dan ngaben massal. (*)

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved