Catatan Pemilihan Legislatif di Bali: Bansos Jadi Primadona di Masyarakat

Pengamat Politik Undiknas Denpasar, Nyoman Subanda melakukan survei tentang bansos sebagai faktor kemenangan bagi para calon legislatif incumbent

Catatan Pemilihan Legislatif di Bali: Bansos Jadi Primadona di Masyarakat
Net
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pengamat Politik Undiknas Denpasar, Nyoman Subanda melakukan survei tentang bansos  sebagai faktor kemenangan bagi para calon legislatif (caleg) incumbent dalam helatan Pemilu.

Peran bansos bagi para caleg, khususnya incumbent, di masyarakat sangat besar. Ini berdasarkan hasil survei yang dia lakukan di beberapa kabupaten/kota di Bali.

Ada beberapa faktor dominan yang menjadi penentu kemenangan caleg, dan bansos tampaknya ada di urutan pertama.

Dari survei yang dilakukan di beberapa kabupaten di Bali, hampir semua mengatakan incumbent yang membawa bansos signifikan, baik itu dari eksekutif dan yang dilimpahkan ke legislatif.

Bansos tidak hanya digunakan oleh para calon petahana. Namun juga caleg yang "naik kelas" ke posisi yang lebih tinggi seperti misalnya dari DPRD provinsi ke DPR RI.

Ini menjadi salah satu investasi sosial yang pernah dilakukan para incumbent dan signifikan bagi legislatif.

Masyarakat pun menganggap pentingnya bansos dalam helatan Pileg. Hampir 70 persen masyarakat menganggap penting "serangan bansos" tersebut. Bansos menjadi prefensi politik yang utama.

Sebenarnya masyarakat menginginkan caleg yang bisa memperjuangkan aspirasi.

Tapi hampir semua caleg bisa seperti itu, sehingga pragmatisme politik di masyarakat berpikir seperti itu.

Menurut Subanda, untuk mencegah politisasi bansos di masa Pemilu sangat sulit.

"Kita hanya berharap partai politik tidak hanya mencalonkan para calon yang memiliki akseptabilitas dan elektabilitas, tapi juga yang memiliki kapabilitas menciptakan lembaga legislatif yang memiliki marwah di masyarakat," ujarnya.

"Itu yang saya sering sampaikan di media massa termasuk juga dalam berbagai seminar, bahwa dunia politik saat ini dipengaruhi dan didominasi kapitalisme politik," imbuhnya.

Subanda menambahkan,  sistem yang berkembang saat ini selalu memerlukan orang-orang yang mempunyai akseptabilitas dan elektabilitas yang tinggi.

"Tapi orang-orang yang mempunyai kapabilitas, saya kira itu yang baik, dan masyarakat harus punya kontrol terhadap itu," pungkasnya. (*)

Penulis: Ragil Armando
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved