Puri Desa Gobleg Simpan 23 Keping Prasasti Era Kerajaan, Muat Tentang Batas-batas Wilayah Tamblingan

Dari proses identifikasi terkuak bahwa prasasti yang terbuat dari bahan tembaga itu memuat tentang pajak serta batas-batas wilayah Tamblingan

Puri Desa Gobleg Simpan 23 Keping Prasasti Era Kerajaan, Muat Tentang Batas-batas Wilayah Tamblingan
Tribun Bali/Ratu Ayu
Sebanyak 23 keping prasasti, tersimpan rapi di Puri Desa Gobleg, yang terletak di Banjar Dinas Tengah, Buleleng. Prasasti-prasasti tersebut sempat diidentifikasi oleh Balai Arkeologi (Balar Bali). 

Penglingsir Puri Desa Gobleg, I Gusti Ngurah Agung Pradnyan mengatakan, ia bersama keluarga sangat menjaga baik prasasti-prasasti tersebut.

Sebanyak 23 keping prasasti, tersimpan rapi di Puri Desa Gobleg, yang terletak di Banjar Dinas Tengah, Buleleng. Prasasti-prasasti tersebut sempat diidentifikasi oleh Balai Arkeologi (Balar Bali).
Sebanyak 23 keping prasasti, tersimpan rapi di Puri Desa Gobleg, yang terletak di Banjar Dinas Tengah, Buleleng. Prasasti-prasasti tersebut sempat diidentifikasi oleh Balai Arkeologi (Balar Bali). (Tribun Bali/Ratu Ayu)

Pembersihan pun rutin dilakukan setiap hari raya Tumpek Landep. Mengingat usianya yang cukup tua, banyak prasasti yang mulai mengalami kerusakan, melengkung, berkarat, dan diselimuti jamur.

Untuk itu, Pradnyan mengaku akan bekerjasama dengan pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya untuk dibuatkan duplikatnya.

"Terkait isinya jarang ada yang tahu. Karena masalah prasasti itu kan ada di sini ada di situ. Jadi ada prasasti ya sudah. Prasasti ini dari leluhur kami yang dulu tinggal di Tamblingan, lalu pindah dan di bawa ke sini (Desa Gobleg, red)," terangnya.

Dalam sepengetahuannya, sekitar tahun 800an, warga Desa Gobleg dulunya tinggal di daerah Danau Tamblingan.

Memasuki pukul 1.400an, para leluhur itu lantas pindah ke wilayah yang kini disebut dengan Desa Gobleg, lantaran Danau Tamblingan diyakini sebagai tempat suci (hulu).

"Saat melaksanakan Pitra Yadnya tidak bisa karena itu daerah suci. Selain itu menurut sejarah, saat beliau-beliau dulu melaksanakan Pitra Yadnya banyak mayat yang hilang entah kemana. Oleh karena itu karena faktor menjaga kesucian dan mungkin kesuburan tanah beliau-beliau itu pindah ke sini (Gobleg,red)," terangnya.

Sementara Kordinator Peneliti Balai Arkeologi Bali, Nyoman Sunarya mengatakan, dari hasil identifikasi, prasasti itu diketahui dibuat saat masa Kerajaan Ugrasena pada tahun 844 Caka, masa Kerajaan Udayana, serta masa Kerajaan Suradhipa pada tahun 1.041 Caka.

Usai diidentifikasi, sebut Sunarya, pihaknya akan mengumpulkan datanya, serta menelusuri desa-desa yang telah disebutkan dalam prasasti tersebut.

"Prasasti ini berisi tentang batas wilayah Tamblingan, pajak, hak dan kewajiban warga Desa Tamblingan," jelasnya. 

Halaman
123
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved