Puri Desa Gobleg Simpan 23 Keping Prasasti Era Kerajaan, Muat Tentang Batas-batas Wilayah Tamblingan

Dari proses identifikasi terkuak bahwa prasasti yang terbuat dari bahan tembaga itu memuat tentang pajak serta batas-batas wilayah Tamblingan

Puri Desa Gobleg Simpan 23 Keping Prasasti Era Kerajaan, Muat Tentang Batas-batas Wilayah Tamblingan
Tribun Bali/Ratu Ayu
Sebanyak 23 keping prasasti, tersimpan rapi di Puri Desa Gobleg, yang terletak di Banjar Dinas Tengah, Buleleng. Prasasti-prasasti tersebut sempat diidentifikasi oleh Balai Arkeologi (Balar Bali). 

Lestarikan Rumah Suci Zaman Kolonial Belanda
Selain masih menyimpan sejumlah prasasti, di Puri Gobleh juga masih dapat ditemukan rumah berukuran sekitar 6x8 meter yang diperkirakan dibuat pada zaman kolonial Belanda.

Penglingsir Puri Desa Gobleg, I Gusti Ngurah Agung Pradnyan menyebutkan, rumah tua itu disebut oleh leluhurnya sebagai rumah suci sebab prasasti-prasati era kerajaan Udayana, Ugrasena, Suradhipa disimpan oleh para leluhurnya di dalam rumah tersebut.

Hal ini juga terlihat dari jumlah tiang yang banyaknya 12 saka.

"Karena dirasa kurang aman bila diletakkan di pura, sehingga dibuatkan lah rumah ini untuk menyimpan prasasti tersebut. Namun saya tidak tahu angka tahun pembuatan rumahnya,"  terangnya.

Di dalam rumah dengan cat berwarna putih itu juga terdapat empat buah bale panjang dan pendek. Untuk bale panjang, kata Pradnyan, difungsikan untuk yadnya, sementara untuk bale pendek untuk tempat beristirahat.

Ada pula bale di sebelah hulu, yang diberi nama Bale Sunduk.

"Secara kasat mata seakan-akan tidak berfungsi. Namun itu terbukti bahwa Sunduk itu namanya  Sri Dandan yang artinya tempat suci. Kalau dipotong sedikit jadi rumah biasa. Rumah ini hanya satu-satunya ada di Gobleg," katanya.

Hingga saat ini, terang Pradnyan, rumah tersebut masih tetap dilestarikan oleh keluarganya.

Pada 2018 lalu, rumah itu sempat di restorasi oleh pihak Balar Bali, namun yang diganti hanya pada bagian atap. Sementara bale, tembok dan keramiknya, masih tetap dipertahankan.

"Masih dilestarikan karena ini tempat suci. Pikiran kami rumah ini juga adalah budaya yang harus dijaga. Rumah ini bisa dibilang gedong simpen namun bisa ditiduri juga," tutupnya. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved