Ubud Food Festival 2019, Sediakan Layanan Non-Tunai dan Upayakan Manajemen Sampah

Ubud Food Festival (UFF) akan digelar 26 hingga 28 April mendatang. Masyarakat yang ingin mencicipi makanan di sini tak perlu khawatir tak bawa cash

Ubud Food Festival 2019, Sediakan Layanan Non-Tunai dan Upayakan Manajemen Sampah
Tribun Bali/ Meika Pestaria
Konferensi pers, dalam rangka Ubud Food Festival tahun 2019 di Kubu Kopi, Senin (22 April 2019). 

Laporan Tribun Bali/ Meika Pestaria Tumanggor

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ubud Food Festival (UFF) akan digelar 26 hingga 28 April mendatang.

Bagi masyarakat Bali dan wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin menikmati masakan Indonesia di sini tak perlu khawatir jika tidak membawa uang cash.

Pasalnya UFF kali ini menyediakan metode pembayaran cashless payment yang bekerja sama dengan OVO.

"Tahun ini kita bekerja sama dengan OVO. Kita akan lebih menjadi cashless payment festival. Jadi teman-teman bisa hadir, nggak takut lagi ketinggalan dompet. Karena kita akan menggunakan pilihan metode pembayaran cashless payment. Mendapatkan cash back dari OVO", kata Kadek Purnami General Manager Ubud Food Festival.

Kadek Purnami mengatakan, selain menyediakan cashless payment, UFF tahun ini juga menerapkan waste management atau pengolahan limbah dan quick bites.

Baca: Ubud Food Festival 2019 Bumbui Dunia dengan Masakan Indonesia

Baca: Hungry Fish Tempat Sampah Unik di Pantai Segara Sanur, Begini Penuturan Sang Kreator

"Menjadikan festival lebih green. Di mana kita mengajak para stall untuk tidak menggunakan styrofoam, tidak menggunakan sedotan dan menggunakan bahan-bahan organik atau yang lebih ramah lingkungan untuk penyajikan makanan."

"Kemudian juga mengajak para audiens yang hadir ke Ubud untuk mungkin membawa tempat makannya sendiri. Jadi dengan membawa tempat makan sendiri kita juga mengurangi sampah. Kami juga menyediakan tempat pencucian bagi mereka. Terus kita masih konsentrasi untuk meng-green-kan dan mengkampanyekan untuk festival ini lebih ramah lingkungan", Kat Kadek Purnami.

"Di waste management, yang kita buat itu, ada pemisahan botol plastik. Terus Kita akan mengumpulkan setiap hari berapa sampah yang kita hasilkan. Berapa jumlah dari sampah plastiknya, berapa jumlah sampah organiknya. Kemudian sisa-sisa makanan yang ada. Dan itu pun akan kita hitung."

Baca: Tabanan Tunggu Bantuan Alat dari Jepang, Pengelolaan Sampah Organik di TPA Mandung

Baca: Velis, Anjing Kintamani dengan Lincah Pungut Sampah Plastik di Hadapan Gubernur Bali

"Misalnya kita bekerja sama dengan peternak babi, apabila ada sisa makanan kita akan bawa ke sana. Terus yang organik yang sudah jadi sampah tidak bisa dimakan, akan kita bawa ke beberapa tempat pembuatan kompos. Sementara yang masih didaur ulang, akan kita bawa ke tempat yang bisa kita daur ulang", tambah Kadek Purnami.

"Jadi nanti, akan ada sesi di food for thought, di mana para pembicara akan menceritakan tentang kegiatannya atau program-programnya dalam waktu 30 menitan. Jadi bergiliran. Jadi tidak diskusi yang terbanyak tapi satu pembicara", kata Kadek Purnami.

Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved