Wawancara Eksklusif La Nyalla Mattalitti, Banyak yang Tagih Sumpah Potong Leher, Ini Jawabannya

Wawancara Eksklusif La Nyalla Mattalitti, Banyak yang Tagih Sumpah Potong Leher, Ini Jawabannya

Wawancara Eksklusif La Nyalla Mattalitti, Banyak yang Tagih Sumpah Potong Leher, Ini Jawabannya
Tribunnews.com
La Nyalla Mattalitti 

Itu bukan sumpah. Saya pada saat itu ngomong celetuk-celetuk, biasa saja. Saya memang bilang, 'potong leher saya kalau sampai Prabowo menang di Madura'. Hal itu untuk meyakinkan perjuangan kami. Di organisasi saya, hal itu biasa untuk memantabkan tim kerja. Perkara terus kalah, bukan suruh potong leher. Kan nggak lucu. Itu bahasa meyakinkan organisasi saya. Namun, kalau ada yang tersinggung, saya mohon maaf. Saya nggak ada niatan menyingung orang. Saya punya komunitas Madura. Anggota saya ada disana. Sehingga, untuk meyakinkan mereka, saya ngomong seperti itu. Namun, kalau Prabowo menang, itu garis tangan dari Allah. Terus mau apa? Masa leher saya harus dipotong?

- Banyak yang menilai itu tantangan untuk orang Madura?

La Nyalla:

Menurut saya, itu biasa saja. Saya rasa hal seperti itu banyak. Pak Amien Rais pernah bilang akan jalan kaki dari Jogja ke Jakarta. Kemudian, Ahmad Dhani mau potong burung. Terus, Anas Urbaningrum katanya mau gantung leher di Monas. Hal seperti ini biasa. Jangan dimasukkan dalam hati. Saya mohon maaf, kalau hal itu dinilai menantang. Namun, yang pasti saya bukan menantang. Intinya itu.

- Setelah itu viral, sempat mendapat ancaman?

La Nyalla:

Saya nggak pernah menanggapi. Saya ngomong apa adanya. Kalau mereka tersinggung, saya minta maaf. Namun, saya tidak pernah nantang orang. Namun, kalau mereka menteror saya terus, saya ketawa. Saya dari dulu, kerjaan saya diginiin terus sama orang. Tapi, kalau ada yang mulai, nanti pasti ada yang mengatur. Memang sudah ada yang meneror dan itu saya lapor ke polisi. Kalau ada apa-apa, pasti orang ini, orang ini. Jadi sudah termonitor semua. Negara kita, negara hukum. Sehingga, nggak perlu main-main.

- Pemilu selesai, apa yang bapak harapkan?

La Nyalla:

Pertarungan 01 dan 02 sudah selesai. Perkara siapa yang kalah, siapa yang menang, itu juga sudah selesai. Cuma, sekarang siapa yang dilegitimasi oleh KPU, kita tunggu hasil di KPU. Kalau Quick Count, jelas kalau 01 menang. Kalau 02 menglaim menang, saya rasa lembaga survei tidak perlu diragukan. Kalau merasa menang, ayo datanya dibuka. Kalau mau buka-bukaan, ini ada 800 ribu TPS bukan 300 ribu TPS. Ayo dibuka semua. Pada saat 2017 lembaga survei memenangkan Anies-Sandi di Pilgub DKI Jakarta, Pak Prabowo menagkui kok. Lembaga survei sama, kenapa sekarang kok reaksinya berbeda? Saya kasihan dengan Pak Prabowo, sebab yang membisiki tidak benar.

- Apa himbauan Anda untuk masyarakat?

La Nyalla :

Kalau di tingkat elit masih bentrok, yang di grass root, sudah. Apa yang kita cari? Ini pemimpin sudah ada. Kita bersatu, berangkulan. Kita berpikir bagaimana negara kita supaya maju. Jangan terus dendam, nggak ada gunanya. Nggak maju-maju kita. Mikir itu. Ribut terus. Himbauan saya, semua bersatu, nggak ada yang menang atau kalah semua Indonesia.

- Hal tersebut yang membuat anda menginstruksikan menolak gerakan People Power dari Amien Rais?

La Nyalla:

Saya mengenal Pak Amien Rais sebagai figur umat Islam yang bagus. Saya tahu beliau sudah profesor dan sudah doktor. Saya juga tahu beliau ahli sholat, ahli puasa. Saya kenal dekat dengan beliau. Namun, begitu ada statement soal ngajak People Power, saya kok tidak merasa itu adalah Amien Rais. Saya merasa itu orang lain, yang kebetulan namanya sama. Nggak ada People Power. Apa yang mau di-people power? Kecurangan pun bisa diselesaikan secara hukum. Sehingga, nggak usah karena kecewa. Sebaliknya, saya rasa harus bersatu.

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Wawancara Eksklusif : La Nyalla Jawab Isu Potong Leher di Madura

Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved