Curhat Tim Sukses yang Gagal Raup Suara Hingga Alami Stres, Datangi Ustaz Bushtomi & Jalani Terapi

Mursyid mengaku mengalami depresi pada Selasa (23/4/2019) setelah jagoannya tak mampu meraih suara yang ditargetkan.

Curhat Tim Sukses yang Gagal Raup Suara Hingga Alami Stres, Datangi Ustaz Bushtomi & Jalani Terapi
Kompas.com/ MUHAMAD SYAHRI ROMDHON
Ustaz Ujang Bushtomi pemilik Padepokan Anti Galau memandikan Mursyid (45) di Waduk Setupatok, Selasa malam (24/4/2019). Mursyid adalah tim sukses calon anggota DPRD Kabupaten Cirebon yang depresi karena tertekan perolehan suara yang kecil. 

TRIBUN-BALI.COM, CIREBON – Pemilu Serentak 2019 tak hanya menyisakan cerita sukses bagi calon anggota legislatif (caleg) melenggang menjadi wakil rakyat. 

Namun, banyak juga caleg bersama tim suksesnya gagal hingga mengalami depresi atau stress berat setelah jagonya tak mampu meraup suara. 

Al hasil, mereka pun terpaksa dirawat di rumah sakit atau menjalani pengobatan alternatif untuk memulihkan kondisi kejiwaannya. 

Dilansir Tribun Bali dari Kompas.com, pengalaman pahit itu dialami oleh Mursyid (45). Salah seorang tim sukses dari calon anggota DPRD Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Mursyid mengaku mengalami depresi pada Selasa (23/4/2019) setelah jagoannya tak mampu meraih suara yang ditargetkan. 

Warga Desa Penpen, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon ini tak kuat karena terus ditagih sang caleg mengenai hasil perolehan suara yang di luar prediksi.

Ironinya, sang caleg yang dimaksud adalah Khaerudin (35) yang tak lain adalah adik kandungnya sendiri.

Baca: Pembuluh Darah Anggota KPPS di Bali Ini Pecah Usai Siapkan TPS, 2 Anggota Pengawas Meninggal 

Khaerudin mencalonkan diri menjadi anggota DPRD Kabupaten Cirebon dengan nomor urut enam dari Partai Amanat Nasional (PAN).

Dia mewakili daerah pemilihan tujuh yang meliputi enam kecamatan antara lain: Kecamatan Astanajapura, Beber, Greged, Mundu, Sedong dan Susukan Lebak.

“Saya tim sukses ring satu untuk Caleg PAN Nomor 6 Dapil 7, namanya Khaerudin. Dia adik kandung saya,” kata Mursyid kepada sejumlah media.

Dia hanya mendapatkan 567 suara dari jumlah suara yang ditargetkan sebanyak 3000 suara.

Anak kedua dari pasangan Basyir (alm) dan Aminah ini menceritakan, tekanan itu diduga terjadi setelah Kherudin memberikan sejumlah nominal uang dan 3000 butir telur dalam dua buah mobil boks kepada Mursyid.

“Sekarang kalau orang silaturahim enggak ngasih-ngasih kan enggak enak. Udah ngeganggu waktunya, enggak enak kalo enggak ngasih. Saya bilang, ini sih titipan telur dari adik saya, sodakoh aja, doa dan dukungan pilih adik saya ya,” kata Mursyid kepada Kompas.com mengingat kata-kata saat dia mengampanyekan adiknya.

Baca: PDIP Menang Telak Pileg 2019 di Bali,  Moncong Putih Kuasai DPRD Kabupaten/Kota dan Provinsi

Mursyid meyakinkan bahwa dirinya sudah kerja keras siang dan malam menyosialisasikan adiknya dari rumah ke rumah.

Dia memberikan satu bungkus paket berisi empat butir telur untuk satu orang pemilih.

Namun, saat proses penghitungan suara, Khaerudin mulai menanyakan perolehan hasil suaranya.

Mursyid berulangkali ditelepon dan ditagih suara yang pernah ditargetkan.

Kenyataannya jauh, suara di Desa Penpen untuk Khaerudin hanya 567 dari 3000 suara yang ditargetkan.

Akhirnya, Mursyid merasa kecewa pada diri sendiri karena tidak dapat memenuhi target.

Dia juga kesal dengan warga yang sudah dia beri sesuatu namun hasilnya tidak sesuai harapan.

Mursyid mengaku hubungan saudara adik kakak pun sempat merenggang karena masalah ini.

Terapi depresi di Padepokan Anti Galau Albushtomi Pantauan Kompas.com, Mursyid mendatangi Padepokan Anti Galau Albushtomi pada Selasa petang.

Dia langsung berbincang dengan Ustaz Ujang Bushtomi, pemilik padepokan.

Dia menyampaikan apa yang sedang dialaminya hingga berulang kali merasa kecewa terhadap diri sendiri dan mudah marah.

Sekitar pukul 19.30 WIB, Ustaz Ujang Bustomi bersama tim padepokan anti galau membawa Mursyid ke Waduk Setupatok.

Mereka langsung memandikan Mursyid sambil melakukan serangkaian ritual.

Ustaz Ujang Bushtomi menyampaikan, depresi pascapemilu tidak hanya menyerang calon legislatif, melainkan juga tim suksesnya.

Hingga Selasa malam, sudah ada enam caleg dan sepuluh orang tim sukses yang berkunjung ke padepokannya.

Ujang menjelaskan, tim sukses caleg yang depresi berasal dari rasa tertekan. Caleg terus menagih dan meminta pertanggungjawaban perolehan suara yang tidak mencapai target.

Bahkan, tidak sedikit para caleg yang meminta uang dikembalikan karena jumlah perolehan suara kecil.

“ Tim sukses juga mungkin sudah maksimal berkerja, tapi terus ditekan (caleg), bahkan meminta uangnya kembali. Tim sukses itu yang terjadi stres seperti itu,” kata Ujang di lokasi.

Baca: Data Terkini KPU Terkait Gugurnya Petugas KPPS Pasca Pemilu 2019, 91 Meninggal & 374 Jatuh Sakit

Menghadapi tim sukses depresi, Ujang terus melakukan pendekatan.

Dia juga melakukan terapi dan ritual untuk membuat diri tim sukses merasa lebih tenang.

Dia mendorong agar tim sukses dan juga caleg mengikhlaskan apa yang telah dikeluarkan.

“Jika kita sedekahkan, tidak ada iming-iming lain yang diharapkan. Harus ikhlas. Terapi yang dilakukan bertujuan agar semua aura negatif hilang, agar jiwa dan pikiran tenang dan searah,” tutup Ujang.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Tim Sukses Caleg Gagal yang Depresi Ditagih Perolehan Suara", 

(Kontributor Kompas TV Cirebon, Muhamad Syahri Romdhon) 

Editor: Ady Sucipto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved